Advertise in this space

O Captain! My Captain!*

October 4, 2011

Salah satu PR yang harus dipecahkan oleh Drago Mamic adalah siapa yang akan diberi tanggungjawab menjadi kapten Persib Bandung? Dan dalam proses pencarian dan seleksi itu, Mamic pasti akan segera mengerti: di Persib, jabatan kapten itu sangat amat berat dan (ini yang menyedihkan) selalu saja gagal diemban.

Dalam dua musim terakhir, jabatan kapten Persib tak pernah permanen. Beberapa nama pernah menyandang ban kapten: Cecep Supriatna, Eka Ramdani, Maman Abdurrahman, Nova Arianto dan kembali ke lengan Eka Ramdani.

Sebelum pindah ke tangan Maman, Eka Ramdani terang-terangan merasa tak sanggup menyandang beban ditambah cara komunikasinya yang —dalam pengakuan Eka sendiri waktu itu— tidak cukup memadai. Tapi Maman kemudian juga menyerah. Ia mengaku tak sanggup menahan beban berat sebagai kapten Maung Bandung. Ban kapten lalu pindah ke tangan Nova. Tapi Nova lagi-lagi menyerah karena mengaku tak tahan menanggung kritikan keras dari para bobotohdan menyarankan agar Eka kembali menjadi kapten karena Nova menganggap sebaiknya kapten Persib disandang oleh warga “pituin” Persib sendiri. Eka pun menyandang ban kapten hingga akhirnya dia memutuskan pindah ke Persisam Samarinda (sebuah rekor tak mengenakkan, di mana jabatan kapten begitu mudah berpindah tangan, seperti main-main saja; itu sebabnya ilustrasi di artikel ini adalah wajah Kapten Jack Sparrow).

Dari sisi senioritas, Cecep Supriatna ada di deret teratas. Akan tetapi, Cecep tampaknya susah untuk menjadi kapten karena (seperti musim-musim sebelumnya) dia akan menjadi pilihan kedua setelah Jandry Pitoy. Setelah Cecep, dari sisi senioritas ada empat kandidat lain: Hariono, Maman, Airlangga dan Atep (sama-sama memperkuat Persib senior pada 2008). Airlangga sepertinya tidak menjadi pilihan Mamic dengan alasan seperti Cecep: jatah di tim utama masih belum pasti. Berarti tinggal Hariono, Maman dan Atep kandidatnya jika menilik dari aspek senioritas di Persib.

Saya tidak begitu yakin dengan Hariono. Totalitas dia di lapangan amat sangat tidak diragukan. Akan tetapi, Hariono tampaknya tidak cukup mumpuni dari segi komunikasi atau memang bukan karakter dan pembawaannya untuk menjadi seorang komunikator di lapangan. Hariono, untuk saya, semacam Paul Scholes di Manchester United yang lebih memilih fokus menikmati dan memainkan perannya di lapangan dengan ketekunan yang diam: talk less, do more.

Bagaimana dengan Atep? Dia salah satu kandidat. Selain sudah 3 musim memperkuat Persib, Atep juga dianggap warga “pituin” Persib karena berasal dari tim yunior Persib. Kekurangannya, barangkali, karena ia pernah memperkuat Persija Jakarta. Akan tetapi saya cenderung tidak memilih Atep sebagai kapten. Kendala terbesar Atep untuk memimpin Persib terletak pada gaya bermainnya yang lebih individual, mungkin pemain Persib yang gaya bermainnya paling “egois”. Saya masih ingat bagaimana Atep sempet cukup lama “berebut” jatah menendang penalti dengan Hilton Moreira dalam laga uji coba dengan Persema Malang pada 18 Desember 2010 lalu.

Saya cenderung memilih Maman Abdurrahman sebagai kandidat paling kuat untuk mengemban jabatan kapten Persib Bandung. Pengalaman “horornya” menjabat ban kapten dua musim lalu setidaknya bisa memberinya sedikit gambaran bagaimana tanggungjawab besar nan berat yang harus disandang oleh seorang kapten di Persib. Tekanan tentu tidak berkurang, melainkan makin bertambah, karena dari tahun ke tahun ekspektasi bobotoh pada Persib juga makin meninggi. Saya cukup percaya Maman sudah semakin matang sekarang.

Catatan minor bagi Maman barangkali terletak pada stereotype dirinya yang sering dianggap sebagai spesialis pembuat blunder (dua blunder fatalnya di final piala AFF 2010 membuat namanya kadang diplesetkan menjadi Maman A-blunder-man). Ini akan menjadi tantangan besar bagi Maman. Selama dia bermain konsisten dan minim blunder, saya percaya Maman bisa terus memupuk kepercayaan dirinya sebagai kapten. Menjadi bumerang jika statistik blunder yang dibuatnya masih tinggi. Kepercayaan dirinya juga makin berkurang dan bisa berimbas pada otoritasnya di lapangan.

Kandidat lain? Abanda Herman bisa saja dipertimbangkan. Tapi karakternya yang tak banyak omong (sebagaimana Hariono) dan rekam jejaknya sebagai mantan-Persija (sebagaimana Atep) bisa menjadi catatan minor untuk menjabat seorang kapten Persib Bandung.

Akan tetapi, dibanding kandidat lain, saya lebih sreg Abanda Herman meniadi kapten kedua setelah Maman. Posisinya sebagai seorang pemain bertahan membuatnya punya ruang dan jarak yang memadai untuk dapat mengamati laju pertandingan dan menjadi pemimpin yang bisa menerjemahkan apa kemauan Coach Mamic.

Lagi pula, sebagai bahan pembanding, empat gelar juara terakhir yang dinikmati Persib juga andil seorang kapten yang merupakan seorang pemain bertahan (1986 dan 1991 adalah Adeng Hudaya dan 1994 dan 1995 adalah Robby Darwis).

Menurut catatan saya pula, mayoritas juara Liga Indonesia dikapteni oleh seorang pemain bertahan. Hanya dua kesebelasan yang dikapteni bukan oleh seorang pemain bertahan yang pernah menjuarai Liga Indonesia yaitu PSM Makasar pada 2000 (Bima Sakti, seorang gelandang bertahan) dan Persipura (musim 2005 dan 2009 dikapteni oleh gelandang Edward Ivakdalam dan musim 2011 dikapteni penyerang Boas Solossa).

Berikut daftar kapten yang memimpin kesebelasannya menjadi kampiun Liga Indonesia:

1995: Persib Bandung: Robby Darwis (bek)
1996: Mastrans Bandung Raya: Heri Kiswanto (bek)
1997: Persebaya: Aji Santoso (bek kiri)
1999: PSIS: Ali Sunan (bek kiri)
2000: PSM: Bima Sakti (gelandang)
2001: Persija: Budiman Yunus (bek kiri)
2002: Petrokimia: Khusaeri (bek)
2003: Persik: Harianto (bek kanan)
2004: Persebaya: Sugiantoro (bek)
2005: Persipura: Edward Ivakdalam (gelandang)
2006: Persik: Harianto (bek kanan)
2007: Sriwijaya: Carlos Renato Elias (bek)
2008/2009: Persipura: Edward Ivakdalam (gelandang)
2009/2010: Arema: Pierre Njanka (bek)
2010/2011: Persipura: Boas Solossa (striker)

Dari daftar di atas itu pula, hanya dua kali kesebelasan yang dikapteni seorang pemain asing bisa menjadi juara yaitu Pierre Njanka di Arema dan Carlos Renato Elias di Sriwijaya (Renato juga memimpin Sriwijaya meraih Copa Dji Samsoe dan menjadikan Sriwijaya sebagai satu-satunya tim yang bisa merengkuh double-winner).

Ada catatan tersendiri mengenai pemain asing yang sukses menjadi kapten di Indonesia. Renato bisa memimpin Sriwijaya dengan baik karena dia sudah berpengalaman dengan Liga Indonesia. Sebelum memperkuat Sriwijaya, ia sudah memperkuat Semen Padang sekitar 4 atau 5 musim. Bagaimana dengan Njanka? Ia jelas pemain asing di atas rata-rata: dua kali bermain di Piala Dunia (1998 dan 2002) dan sekali bermain di Piala Afrika. Ia orang ketiga setelah Mario Kempes dan Roger Milla sebagai pemain yang pernah beredar di Liga Indonesia sekaligus juga pernah mencetak gol di Piala Dunia, tepatnya ke gawang Austria pada Piala Dunia 1998.

Catatan ini penting untuk diperhatikan jika kita mempertimbangkan Abanda Herman atau Miljan Radovic sebagai kandidat kapten Persib Bandung.

Mamic sendiri tampaknya akan menyerahkan ban kapten kepada pemain yang dipilih oleh para pemain sendiri. Dalam pernyataannya kemarin, Mamic menyebutkan: “Saya mempersilakan kepada semua pemain untuk menentukan siapa pemain yang layak menjadi calon kapten, biarkan pemain yang memilih sendiri.”

Saya lebih suka kapten dipilih langsung oleh Coach. Bahwa Coach mengambil pilihan dengan mempertimbangkan masukan dari pemain itu memang sudah seharusnya. Dengan Coach yang memutuskan siapa penyandang kapten, bukan hanya akan meneguhkan otoritas coach di dalam dan di luar lapangan, tapi juga memastikan bahwa Coach juga ikut bertanggungjawab atas pilihannya. Akan tidak bagus jika kapten terpilih kelak dikritik kepemimpinannya dan lantas Coach berkilah bahwa itu adalah pilihan pemain. Lagi pula, kapten yang terpilih juga sudah pasti harus bisa berkomunikasi dan dipercayai oleh coach.

Ingat: seorang kapten bukan hanya menjadi pemimpin bagi para pemain, tapi juga menjadi komunikator antara coach dan pemain dan (jika diperlukan) antara pemain dengan manajemen

Persib salawasna!

—————————————————————-

* Judul tulisan diambil dari judul sajak Walt Whitman untuk mengenang terbunuhnya Abraham Lincoln. Kebetulan juga kapten Persib sebelumnya, Eka Ramdani, baru saja “mati”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*