Advertise in this space

Persib & Mitologi 3-5-2

November 14, 2011

Simaklah 2 pernyataan Sukowiyono  setelah pertandingan Persib kontra Semen Padang beberapa waktu yang lalu:

“Kalau menurut saya formasi 4-2-3-1 lebih cocok diterapkan di laga tandang. Untuk di kandang, sebaiknya pakai pola lebih menyerang, seperti 4-4-2 atau 4-3-3,”

“Pelatih harus mengantisipasi ketika Persib bermain tandang, karena tim lawan pasti akan memfokuskan menyerang. Dengan formasi 4-2-3-1 yang mengandalkan satu striker sangat cocok diterapkan di partai away, karena Persib pasti bakal lebih banyak digempur lawan,

Jika ditambah tulisan di media tersebut yang menyatakan “Kultur sepak bola di Indonesia terbilang berbeda dengan negara-negara lainnya. Tim yang bermain di kandang biasanya akan bermain lebih menyerang dibanding tim tamu” menjadi hal menarik jika harus ada kata “kultur” yang harus diikutkan. Dalam sepakbola, taktik adalah sebuah ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang dan bukanlah kultur. Taktik selalu menyiratkan fleksibilitas yang senantiasa berubah sesuai kebutuhan dan kondisi. Sedangkan kultur sendiri adalah sesuatu yang mengakar dan menjadi sebuah kebiasaan. Jelas ini hal berbeda.

Berbicara tentang “kultur”, Persib selalu diidentikkan dengan strategi saat pertama kali juara Ligina 1 di bawah Indra Tohir yang saat itu mengusung 3-5-2. Padahal sejatinya, saat itu semua tim memakai strategi yang sama dikarenakan awal tahun 90-an  formasi 3-5-2 memang diterapkan di seluruh tim peserta kompetisi. Saat itu 3-5-2 menjadi tren di berbagai tim bahkan di level internasional pun banyak yang memakai strategi ini (Jerman memenangkan Piala Dunia 1990 dengan skema ini).

Namun jika melihat strategi sepakbola sebagai suatu ilmu yang senantiasa berkembang dan berevolusi sesuai kebutuhan jaman maka seharusnya Persib pun melakukan hal yang sama. Persib selalu gagal menerapkan strategi baru, sebut saja: penerapan strategi modern pola 4 bek sejajar. Marek dengan gerbong Polandia, Arcan Iurie, Jaya Hartono, Darko-Jovo hinggal Daniel Roekito yang sebenarnya beberapa kali sukses dengan pola “eksperimen” 4 bek sejajar namun kembali lagi ke alasan ‘kultur” 3-5-2.

Benarkah 3-5-2 merupakan “kultur” Persib?

Jika melihat kembali kejayaan Persib di era perserikatan, pernyataan 3-5-2 merupakan “kultur” Persib amat bisa dibantah. Rentang waktu antara tahun 80 hingga 90-an, Persib sudah amat biasa menggunakan pola 4 bek sejajar dalam formasi pola 4-3-3: 4 bek sejajar dengan 2 center back dengan kecenderungan 1 berperan sebagai libero (seringkali diperankan Adeng Hudaya), 1 orang berperan sebagai stopper (Robby Darwis) dan 2 full back (Dede Iskandar di kanan dan Ade Mulyono di kiri).

Di pos lapangan tengah, 3 gelandang menjaga keseimbangan engine room ini dengan pembagian peran begini: 1 orang berperan menjaga kedalaman dan melindungi backline (devensive midfielder/DM), 1 orang berperan sebagai penyeimbang sekaligus passer, dan 1 orang sebagai gelandang menyerang atau penyerang lubang (trequarista/fantastista).

Pada final Divisi Utama 1985/1986 melawan Perseman Manokwari, Persib turun dengan formasi 4-3-3 dengan komposisi 4 bek sejajar adalah Suryamin dan Ade Mulyono di full back, Robby Darwis dan Adeng Hudaya di center back. Lalu 3 gelandang di isi oleh Sukowiyono dan Iwan Sunarya (keduanya bergantian sebagai DM dan penyeimbang) dan Ajat Sudrajat sebagai gelandang serang atau penyerang lubang. Sementara Djajang Nurjaman dan Dede Rosadi menempati flank di kanan dan kiri dengan penyerang tunggal diisi oleh Suhendar.

Pada final Divisi Utama 1989/1990, lagi-lagi Persib turun dengan formasi 4-3-3. Lihat gambar di bawah ini:

Pada final Divisi Utama 1989/1990, lagi-lagi Persib turun dengan formasi 4-3-3.

Posisi empat bek sejajar di isi oleh Dede Iskandar dan Ade Mulyono sebagai full back, Adeng Hudaya dan Robby Darwis sebagai center back (dengan Adeng sebagai libero, tapi Robby yang aktif berkali-kali naik hingga area penalti lawan). Tiga gelandang tengah di isi oleh Asep Somantri sebagai DM, Yusuf Bachtiar sebagai penyeimbang (seperti posisi Pirlo atau Xabi Alonso) dengan Adjat Sudrajat yang sedang berada di puncak keemasannya sebagai gelandang serang dengan area jelajah yang tak terbatas. Untuk mendampingi Sutiono sebagai penyerang tunggal, Djajang Nurjaman dan Nyanyang Heriadi menempati flank kiri dan kanan.

[Pada final Divisi Utama Perserikatan 1993/1994 dan Ligina I, Persib sudah beralih menjadi 3-5-2. Catatan mungkin bisa diberikan pada Ligina I. Persib baku menggunakan 3 center back yaitu Robby Darwis sebagai libero dan Yadi Mulyadi-Mulyana sebagai stopper.  Akan tetapi, jika rutin mengamati performa Persib di banyak pertandingan, sering terelihat hanya Robby dan Yadi yang bertahan di backline. Sementara Mulyana diberi kebebasan untuk menjelajah lebih ke atas, seringkali sejajar dengan Asep "Munir" Kustiana dan dengan demikian memberikan keleluasaan pada Yudi Guntara dan Yusuf Bachtiar untuk fokus membantu penyerangan]

Pola 4-3-3 di periode ini, khususnya di kompetisi musim 89/90, secara taktik sebetulnya sederhana (mungkin karena soliditas pemainnya yg sudah lama berkumpul bersama sejak berada dalam asuhan tangan besi Marek Janota). Disebut sederhana karena ketika pemain memegang bola, secara otomatis pemain langsung mencari ruang kosong dan peran deep-playmaker (Yusuf Bachtiar) sangat vital untuk mengalirkan alur bola. Kedua flank  sebetulnya tidak selalu menyisir sisi lapangan karena seringkali flank ini menusuk ke tengah mengisi celah kosong yang ditinggalkan bek lawan yang terpancing pergerakan penyerang tengah atau seringkali gelandang serang tiba-tiba sudah menusuk ke kotak penalti.

Pada saat itu, dengan rata-rata postur pemain Persib yang pendek dibanding tim-tim lain di indonesia, Persib nyaris tidak pernah bermain dengan umpan jauh. Umpan jauh hanya menjadi alternatif dan selebihnya dengan permainan pendek merapat yang diotaki oleh Yusuf Bachtiar. Pendek merapat: karena lini tengah Persib memang selalu padat dan tak menyisakan ruang yang banyak bagi lawan. Adjat Sudrajat bisa dengan seketika berada di samping Sutiono dan Adjat Sudrajat juga bisa tiba-tiba berada di kotak penalti sendiri dan berdiri sejajar dengan Asep Somantri. Jika Anda melihat rekaman pertandingan Persib vs Persebaya di final Divisi Utama 1989/1990, ada setidaknya dua momen di mana Adjat melakukan block atas tendangan Syamsul Arifin di garis penalti.

Pola 4-3-3 ini jika membaca penjelasan maka secara fungsi dan peran, secara feksibilitas tidak berbeda jauh dengan pola 4-2-3-1 atau 4-4-2 bahkan 4-5-1. Karena pada dasarnya bukan saat pertandingan kandang atau tandang saja harus terpaku pada satu patron strategi saja, justru fleksibilitas strategi yang digunakan dalam satu waktu pertandingan tergantung waktu kebutuhan kapan menyerang kapan bertahan dan kapan bermain tempo cepat ataupun lambat.

Ciri khas Persib adalah permainan dari kaki ke kaki dengan tempo cepat dan permain cantik penuh skill tinggi. Nyaris dalam beberapa tahun ciri khas ini tergantikan dengan pola long pass yang mudah terbaca lawan dan minimnya kreativitas serangan cepat. Pertahanan yang disiplin yang sudah menjadi ciri khas pun malah pun menjadi PR besar tim Persib yang selalu rapuh dalam serangan balik yang kebanyakan berasal dari lebar lapangan. Lalu “kultur” apakah yang dimiliki tim sebesar Persib?

Sekedar mengingat sepak terjang para legenda Persib, ternyata Mustika Hadi dan Jajang Nurjaman saat dalam mengasuh tim mampu mendobrak apa yang disebut “kultur” yang selalu saja mengemuka di Persib. Di Pelita Jaya, dia bersama para pemain muda sering menggunakan pola 4 bek sejajar. Dan Mustika Hadi bersama skuad Maung Ngora ternyata mampu “berbicara lebih” di kompetisi muda bahkan jika bertanding melawan senior dengan menggunakan strategi yang mendobrak “kultur”.

Jika yang lain bisa, kenapa Persib tidak?

——————————————————-

*ilustrasi oleh mang @Lyovv

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

9 Responses to Persib & Mitologi 3-5-2

  1. denbayan on November 14, 2011 at 11:53 am

    keren euy

  2. hedi on November 14, 2011 at 11:56 am

    Tulisan seperti ini bisa menggugah kesadaran pembina sepakbola (baca: klub). Mungkin bukan sekarang, tapi siapa tahu di masa depan. Ketika klub sudah benar2 diurus oleh orang2 pro :)

  3. Kobobotoh on November 14, 2011 at 12:00 pm

    Mantep mang artikelna, gaya bahasa n pemaparana ber-skill

    Komo deui analisa na margotop…

    Lanjut mang karyana…

  4. maung_bodas on November 14, 2011 at 12:00 pm

    bisaan uy hade :)

  5. rieftux on November 14, 2011 at 12:57 pm

    mantap artikelnya,, lanjutkan kang…….

  6. mang anyunk on November 14, 2011 at 1:11 pm

    Sae. Lajengkeun ku analisis penyebab persib jadi jiga ayeuna. Cobi dirunut perkawis manajemen persib ti pasca juara ligina dugi ka ayeuna. Runut deui perkawis dana. Ari tos dibukbrak mah bakal katingali saha hileud peuteuy nu saenyana di persib teras kedah kumaha ngabebenah persib teh.

  7. K78 on November 15, 2011 at 2:23 am

    heu.. heu
    kenapa yang alin bisa?
    karena setiap PERSIB kalah para mantan dan pengamat bola di bandung, slalu mengkritk pola 442 yang di terapkan platih, dan kembalilah persib ke 352 :P

  8. DJ Sendy on December 8, 2011 at 12:08 pm

    Wawuh ieu nu nulisna..

  9. Pasca Yusuf Bachtiar | mengbal.com | Lalajo Maung on December 22, 2011 at 1:52 pm

    [...] bachtiar, seperti yang pernah dibahas di artikel ‘Mitologi 3-5-2’: “Di pos lapangan tengah, 3 gelandang menjaga keseimbangan engine room ini dengan pembagian [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*