Advertise in this space

Persib 3-2 Persiram: Menyerbu (Hanya) dari Sisi Lapangan

December 6, 2011

Tiga gol yang bersarang di gawang Persiram Raja Ampat semua berawal dari sayap. Semua percobaan mencetak gol dari dalam kotak penalti juga berawal dari sayap. Jika pun ada percobaan dari tengah, itu pasti dilakukan dari luar kotak penalti lewat tendangan jarak jauh, bukan percobaan dari dalam kotak penalti.

Sepanjang 90 menit + 3 menit tambahan waktu, Persib setidaknya memproduksi crossing sebanyak 24 kali. Bandingkan dengan produksi crossing saat menghadapi Semen Padang di pembukaan IPL Oktober silam yang hanya sebanyak 8 kali (2 di babak pertama dan 6 di babak kedua). Itu artinya produksi crossing Persib meningkat sebanyak 300 persen.

Simak juga statistik passing yang diproduksi oleh Miljan Radovic yang berposisi sebagai AM (attacking midfielder). Sepanjang pertandingan, Miljan hanya 2 kali mengirim umpan pada Airlangga yang diplot sebagai striker tunggal.  Sementara produksi passing Miljan kepada kedua flank (Atep dan Ilham) dan kedua full back (Zulkifli Syukur dan Toni Sucipto) mencapai sekitar 17 kali. Hal serupa juga terjadi pada produksi passing yang dilakukan oleh Robbie Gaspar yang di-plot oleh Drago Mamic sebagai devensive midfielder (DM). Perbandingan antara passing Gaspar pada Miljan atau Airlangga yang secara posisi berada di depannya dengan passing Gaspar pada kedua flank atau full back adalah 10:29.

Dengan skema serangan seperti itu, tidak mengherankan jika Airlangga tidak pernah melakukan kerja sama satu dua sentuhan di garis pertahanan Persiram, baik dengan Miljan, Gaspar atau Hariono. Ini bisa digambarkan dari statistik produksi passing dari Miljan ke Airlangga yang hanya terjadi sebanyak dua kali saja. Airlangga justru kirim passing ke Radovic lebih banyak yaitu empat kali (3 succes, 1 unsucces).

Sebagai striker tunggal, Airlangga lebih sering menerima kiriman bola-bola daerah yang memaksanya berlari ke tepi lapangan ketimbang umpan-umpan pendek satu dua sentuhan di dalam kotak penalti atau di garis pertahanan Persiram. Dari sekitar 16 through pass yang dikirim pada Airlangga, 8 di antaranya berupa bola-bola daerah (dan Airlangga memenangkan duel dalam 8 kali kesempatan mengejar bola daerah). Dalam situasi mengejar duel bola-bola daerah itulah Airlangga tak pernah (atau mustahil) mendapatkan ruang untuk langsung melakukan percobaan mencetak gol, melainkan harus menguasai bola itu lalu mengembalikannya pada pemain lain, tidak terkecuali pada Miljan. Itulah sebabnya produksi passing Airlangga pada Miljan dua kali lebih banyak daripada passing Miljan pada Airlangga. Itu pula sebabnya Airlangga hanya melakukan dua kali percobaan mencetak gol, keduanya melalui kepala, masing-masing dari Atep yang berbuah gol pertama dan dari Zulkifli Syukur (semuanya pada babak pertama).

Itu semua menunjukkan skema penyerangan Persib memang disusun dengan prioritas utama dari kedua sayap. Skema serangan yang dilakukan merayap dari belakang ke depan,  dari DM (Gaspar/Hariono) ke AM (Miljan) lalu diteruskan ke Airlangga (striker) sepertinya tidak menjadi opsi. Tidak mengherankan jika tidak ada satu pun percobaan mencetak gol dari tengah (bisa) dilakukan dari dalam kotak penalti melainkan selalu berupa tendangan jarak jauh dari kotak penalti.

Miljan sendiri pada laga ini jauh lebih ofensif ketimbang saat menghadapi Semen Padang di pembukaan IPL lalu. Pada laga melawan Semen Padang, dalam catatan kami, Miljan hanya sekali melakukan pergerakan dari lini kedua memasuki kotak penalti lawan (menyambut umpan Atep yang berakhir diving dan penalti). Sementara pada laga melawan Persiram, statistik pergerakan Miljan ke kotak penalti lawan meningkat sangat drastis. Dari 24 kali produksi crossing Persib, 12 kali di antaranya Miljan sudah berada di kotak penalti. Miljan bahkan mendapatkan 3 kali kesempatan melakukan percobaan mencetak gol dari kotak penalti (dua kali melalui sundulan dan sekali melalui tendangan gunting).

Statistik itu menunjukkan bagaimana Miljan jauh lebih aktif menopang serangan ketimbang saat laga melawan Semen Padang. Di laga melawan Semen Padang, Miljan bermain lebih ke dalam, lebih banyak menguasai bola, tapi jaraknya terlalu jauh dengan kotak penalti atau striker tunggal yang waktu itu ditempati Dragicevic. Hanya saja, topangan Miljan pada serangan Persib lebih banyak merupakan pergerakan menyambut crossing, bukan kerja sama satu dua sentuhan dengan Airlangga.

Formasi awal Persib. Zul sejajar dengan center back untuk mengantisipasi Okto dan membuat Ilham sering ke bawah. Beda dengan Toni yang lebih ke atas dan membuat Atep leluasa beroperasi ke tengah dan depan untuk mengisi posisi Airlangga yang kerap bergerak ke kanan. Posisi Gaspar lebih ke dalam dari Hariono, salah satunya untuk mengantisipasi Toni yang sangat aktif overlap.

 

Kombinasi Dua Passer

Salah satu penyebab kenapa Miljan bisa leluasa aktif melakukan pergerakan tanpa bola ke kotak penalti lawan adalah faktor keberadaan Robbie Gaspar. Bersama Gaspar, peran untuk melakukan distribusi passing tidak lagi dibebankan sepenuhnya pada Miljan. Gaspar dengan ciamik mengambil alih peran Miljan sejak dari area sendiri. Tanpa Gaspar, dan hanya mengandalkan Miljan, dominasi penguasaan bola Persib biasanya berada di area penyerangan. Dengan Gaspar, penguasaan bola Persib sudah dimulai sejak area sendiri. Para defender Persib punya kepercayaan diri untuk menyodorkan lebih banyak bola pada area DM yang ditempati oleh Gaspar dan Hariono.

Selain membuat Miljan bisa lebih leluasa bergerak di pertahanan lawan, keberadaan Gaspar ini juga secara drastis mengurangi produksi long pass/ball. Sepanjang pertandingan, menurut catatan kami, Persib hanya melakukan 17 kali long pass/ball. Bandingkan dengan angka long pass/ball yang diproduksi Persib selama 70 menit awal saat menghadapi Semen Padang yang mencapai angka sebanyak 40 kali.

Keberadaan Gaspar dan Miljan ini membuat Persib terbukti lebih nyaman dan sabar dalam memainkan bola dan mengatur tempo. Kemampuan kontrol, keeping dan passing kedua pemain itu membuat opsi melakukan long pass/ball menjadi menurun. Jika pun ada umpan langsung yang dikirimkan dari bawah ke Airlangga, rata-rata ini berupa bola-bola bawah dan itulah sebabnya angka Airlangga dalam memenangkan duel-duel bola daerah nyaris 100 persen karena Airlangga memang unggul dalam kecepatan.

Akan tetapi, kombinasi Miljan dan Gaspar ini juga membuat Persib kehilangan daya dobrak dari lini kedua. Sebagaimana sudah disebutkan di atas, semua percobaan mencetak gol Persib mayoritas berasal dari serangan sayap, bukan serbuan sistematis dari bawah ke depan, melalui Gaspar ke Miljan lalu ke Airlangga, lewat kerja sama satu dua sentuhan yang cepat. Sepanjang pertandingan melawan Persiram, hampir tidak pernah Persib melakukan serangan model itu.

Situasinya selalu sama: ketika Gaspar atau Miljan mendapatkan bola, keduanya selalu mengintai atau menunggu kedua flank atau kedua full back saat overlap sudah mendapatkan ruang yang pas. Sejauh ini skema tersebut masih berjalan lancar karena kombinasi antara flank dengan full back (Atep dengan Toni atau Ilham dengan Zulkifli) dilakukan dengan maksimal. Toni dan Zul aktif membantu kedua flank sehingga sisi sayap Persib cukup variatif. Terutama pada babak pertama, Toni selalu berada minimal di garis tengah saat Gaspar atau Miljan menguasai bola. Zul juga begitu, kendati angka overlap Zul tidak sebanyak Toni (terutama di babak pertama) untuk mengantisipasi pergerakan Okto Maniani.

Rajinnya Toni dan Zul membantu penyerangan ini membuat Atep dan Ilham punya opsi bergerak yang lebih luas dan tidak melulu terpaku di tepi lapangan. Situasi itulah yang membuat Miljan atau Gaspar atau Hariono yang beroperasi di lini tengah selalu memprioritaskan mengirim passing ke sisi lapangan.

Lagi pula, mobilitas Gaspar dan Miljan bisa dikatakan tidak kelewat bagus. Dengan postur yang hampir serupa, Miljan dan Gaspar memang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sprint-sprint pendek yang dibutuhkan jika mereka ingin melakukan kombinasi pass and move yang cepat. Inilah faktor lain yang membuat Persib amat mengandalkan serangan dari sisi lapangan. Inilah “kekurangan” memiliki dua orang pemain dengan karakter yang hampir serupa yaitu sebagai passer. Ini seperti menempatkan Xabi Alonso dengan Michael Carrick pada saat yang sama.

Situasi ini bisa berbahaya jika (1) lawan memiliki kekuatan yang sama bagusnya di sektor sayap dan/atau (2) saat serbuan dari sisi lapangan menemui jalan buntu. Jika itu terjadi, Persib bisa tergoda memperbanyak produksi long pass/ball.

4-2-3-1 vs 4-4-2

Formasi 4-2-3-1 yang diusung Persib menghadapi 4-4-2 yang diusung Persisam. Lihat juga gambar pertama untuk mengetahui area pergerakan para pemain Persib dalam skema 4-2-3-1 ini.

Persib turun dengan formasi andalan Mamic yaitu 4-2-3-1. Toni bermain sebagai full back kiri menyusul belum pulihnya Nasuha dan keberadaan Gaspar di DM, dengan Zulkifli bermain di full back kanan. Toni jauh lebih aktif membantu serangan dan memungkinkan Atep punya ruang yang lebih besar untuk lebih sering bergerak ke tengah. Sementara Zul, kendati lebih banyak memproduksi crossing daripada Toni (5:2), lebih selektif dan menahan diri untuk melakukan overlap. Tampaknya ini bagian dari instruksi Mamic untuk memastikan Okto Maniani tidak bisa melakukan pergerakan yang berbahaya. Di babak kedua, Okto bergeser ke kanan dan memaksa Toni lebih hati-hati melakukan overlap.

Persiram sendiri turun dengan formasi 4-4-2. Okto menjadi pusat serangan. Orientasi penyerangan Persiram didominasi oleh kecenderungan menjadikan Okto sebagai wide-play maker. Keberadaan Okto ini pula satu-satunya penyesuaian antisipatif Mamic pada Persiram. Saat bermain di kiri, Okto membuat Zul lebih hati-hati melakukan overlap. Saat bermain di kanan pada babak kedua, gentian Okto membuat Toni lebih berhati-hati.

Sepanjang babak pertama, Persiram hanya melakukan 2 kali crossing dan semuanya dari sisi kanan bukan dari Okto. Okto berhasil “dikunci” oleh Zul. Menyadari situasi itu, Bambang Nurdiansyah memindahkan Okto ke kanan pada babak kedua. Strategi ini berhasil membuat tekanan Persiram menjadi lebih bertenaga. Pada babak kedua, Persiram jauh lebih hidup dan itu didominasi dari serangan sisi kanan yang ditempati Okto. Pada babak kedua ini, 6 percobaan Persiram 5 di antaranya dimulai dari sisi kanan. Gol kedua Persiram juga berasal dari sisi kanan, kendati assist tidak dibuat oleh Okto.

Situasi menjadi lebih sulit saat Airlangga harus ditarik keluar karena cedera (disusul Toni yang cedera dan diganti Hendra Ridwan). Mamic memilih memasukkan Budiawan daripada Aliyuddin dan membuat Persib bermain tanpa seorang striker murni sehingga pada praktiknya Persib bermain dengan formasi 4-2-4-0 dan/atau 4-4-2 dengan Atep dan Ilham saling bersilangan mengisi posisi striker. Lihat gambar di bawah ini:

Formasi setelah Airlangga dan Toni out. Ini adalah formasi saat menyerang di mana Atep dan Ilham bergantian bersilangan mengisi posisi Airlangga. Dalam situasi netral, Persib bermain dengan 4-2-4-0 tanpa striker murni.

Tanpa seorang striker murni, fungsi penggedor secara bergantian diperankan oleh Atep dan Ilham (kadang Miljan). Atep dan Ilham bergantian bergerak bersilangan dari sayap ke tengah. Ini membuat Persib bermain lebih rapat di tengah dan membuat serbuan dari sayap dengan sendirinya menjadi berkurang.Lihat gambar di bawah ini:

Atep-Ilham dalam lingkaran hitam mengisi lini depan dengan cara bergerak saling menyilang.

Situasi makin berat saat stamina pemain juga mulai menurun terutama pada 15 menit terakhir. Inilah yang membuat permainan Persib menjadi lebih monoton. Bola jauh lebih lama lagi berkitar-kitar di area DM. Durasi perputaran bola di area DM kian lama karena Miljan juga makin sering turun ke bawah. Dengan sayap yang masih dominan, durasi perputaran bola di area DM tidak terlalu lama karena bola bisa segera dikirim ke sisi lapangan. Tanpa itu, bukan hanya durasi perputaran bola di area DM menjadi lebih lama, tetapi juga membuat produksi long pass/ball Persib meningkat.

Dalam 15 menit terakhir (2 menit tambahan), produksi long pass/ball Persib mencapai 8 kali (per 2,1 menit melakukan 1 long pass/ball). Bandingkan dengan produksi long pass/ball sejak menit 0 sampai menit 75 yang hanya mencapai 9 kali (1 kali long pass/ball per 8,3 menit).

Inilah pekerjaan rumah bagi Drago Mamic. Apa opsi jika serangan dari sayap menemui jalan buntu? Dengan Gaspar dan Miljan mengisi lini tengah, sukar mengharapkan serangan cepat muncul secara konstan dari lini yang menjadi jantung permainan ini?

——————————————————————————-

* post-macth analysis ini bisa dilakukan berkat jasa baik teman-teman www.simamaung.com yang bersedia memberi akses pada rekaman pertandingan

** ilustrasi oleh @Lyovv

 

Tags: , , , , , , , , , ,

6 Responses to Persib 3-2 Persiram: Menyerbu (Hanya) dari Sisi Lapangan

  1. Nay on December 6, 2011 at 7:30 am

    Salut…sae pisan artikelna. Mudah2n sa emutan sareng jajaran pelatih.

  2. bobotohngora on December 6, 2011 at 9:43 am

    “Apa opsi jika serangan dari sayap menemui jalan buntu? Dengan Gaspar dan Miljan mengisi lini tengah, sukar mengharapkan serangan cepat muncul secara konstan dari lini yang menjadi jantung permainan ini?”

    Ganti taktik wae jadi 442, aya nu di korbankeun, Rado atau Robbie .
    Dengan dua striker di depan, Airlangga bisa satu dua dengan partnernya di depan. .

    Bener teu?, meureun ieu oge. . hehehe

  3. Doni Romadona on December 6, 2011 at 1:56 pm

    Mantap ulasan nya… Bisa jadi bahan referensi buat pelatih PERSIB tah…. hehehe…. mun orang sunda pinter kabeh jiga kitu jigana yakin PERSIB bisa jadi juara,,,,hehehhe Amiiiin..

  4. @sipeay on December 6, 2011 at 2:29 pm

    saya ngabayangkeun lamun radovic kamari masih bisa lumpat tarik, persiram bisa kabobolan leuwih ti 3 :..

  5. K78 on December 7, 2011 at 1:42 am

    Klo analis saya setelah pergantian Ronggo, Si Ilham jadi penyerang tunggal walau memang terlihat kaku pergerakannya, Budiawan yang di tempatkan di Kanan menggantikan Ilham menurut saya lumayan bagus.. , perlu di coba kembali

  6. [...] Mamic, seperti ditulis dalam paragraf terakhir artikel post-match analysis Persib vs Persiram, masih relevan untuk diajukan. Dalam artikel tersebut, situs ini menulis: “Apa opsi jika serangan [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*