Advertise in this space

Kejuaraan Nasional PSSI 1961: Mengalahkan Persija, Menggondol Juara

January 24, 2013

Squad PERSIB pada Kejurnas PSSI 1961

Tomasowa, pelatih Persib Bandung berdarah Ambon, amat tegang berdiri di tepi lapangan Stadion Diponegoro, Semarang. Anak asuhnya terlihat berada dalam tekanan bertubi-tubi Persija Jakarta. Padahal, saat itu, Persib tidak punya pilihan selain menang. Hanya kemenangan yang bisa mengantarkan Persib menjuarai Kejurnas PSSI 1961.

Sehari sebelumnya, PSM Makasar sukses mengalahkan PSMS Medan dengan skor 3-2. Kemenangan itu membuat PSM mengambilallih puncak klasemen dengan nilai 10. Sementara Persib saat itu baru mendapatkan poin 9, disusul Persija dengan 8 poin. Sementara jika Persija yang memenangkan pertandingan, maka Persija yang akan juara karena selisih golnya lebih baik dari PSM.

Situasi inilah yang membuat Tomasowa gelisah dan tegang di pinggir lapangan menyaksikan anak asuhnya digempur Persija. Suasana cerah di Minggu sore 1 Juli 1961 sama sekali tak bisa menenangkan ketegangan Tomasowa. Berkali-kali Tomasowa mendekati garis lapangan, berteriak-teriak memberi instruksi pada Rukma, cs.

Tomasowa terutama memberi instruksi untuk tidak memberi ruang bebas pada penyerang muda Persija, Soetjipto Soentoro, yang namanya sedang melambung dibicarakan. Berkali-kali, Gareng – panggilan Soetjipto—berhasil membongkar barisan pertahanan Persib yang digalang oleh Sunarto, bek Persib yang berpostur tinggi besar.

Persib saat itu menggunakan formasi WM atau 3-2-5, formasi yang terkenal di masa itu, dikembangkan oleh pelatih Arsenal, Herbert Chapman. Henky Timisela didapuk sebagai centervoor (penyerang tengah/central forward). Di sisi kanan dan kirinya sebagai inner, ada Omo Suratmo sebagai kanan dalam dan Wowo sebagai kiri dalam. Di lebar lapangan, Pietje Timisela menempati kanan luar dan Ade Dana sebagai kiri luar.

Di tengah lapangan, Rukma sebagai kapten tim berduet dengan Fatah/Tio Him Tjiang. Di lini belakang, Sunarto sebaga spill (bek tengah) diapit oleh Iljas Hadade di sisi kiri dan Ishak Udin di sisi kanan.

Tentu taktik dan formasi di lapangan tidak sebaku seperti yang tertulis di atas kertas. Seringkali perubahan dilakukan secara fleksibel. Persib, saat itu, juga melakukannya. Formasi baku WM (3-2-5) kadang diubah dengan menarik Hengky sebagai centervoor bermain lebih ke dalam, di depan duet Rumka-Fatah, sehingga meninggalkan Wowo dan Omo menjadi duet di lini depan.

Perubahan seperti itu membuat Persib saat menyerang bermain dengan formasi 3-3-4 atau 3-2-1-4 dengan Hengky menjadi penghubung antara unit bertahan (3 pemain bertahan + 2 gelandang) dengan unit menyerang (2 inner – kiri dalam dan kanan luar – dan 2 winger).

Sebaliknya saat diserang, dua gelandang (Rukma dan Fatah) turun ke jantung pertahanan, dua winger (Pietje dan Ade) turun ke dalam menemani Hengky di lini tengah, dan meninggalkan 2 inner (kiri dalam Wowo dan kanan dalam Omo) di depan. Formasi pun berubah menjadi 5-3-2.

Skema dan taktik Persib sebenarnya tidak terlalu istimewa. Kesederhanaan taktik itu terlihat dari cara bermain dua winger Persib, Ade Dana dan Pietje, yang sepanjang pertandingan jarang sekali masuk ke tengah. Keduanya hanya ditugaskan member umpan silang ke centervoor atau backpass ke dua inner yang naik ke depan.

Pola menyerangnya pun sederhana: satu dua sentuhan di lini tengah, disusul bola panjang ke ujung lapangan, yang akan dilanjutkan oleh dua winger dengan mengirim umpan silang ke centervoor atau backpass ke inner. Para pemain Persib saat itu menyebut pola penyerangan macam itu dengan istilah “dioyog”.

Salah satu gol Persib di laga itu yang dicetak Hengky juga lahir dari taktik “dioyog” itu tadi. Gol yang dicetak pada menit 23 itu berawal dari umpan silang Ade Dana di kiri lapangan, yang disambut Hengky yang langsung megopernya pada Omo Suratmo yang lantas mengembalikannya lagi pada Hengky. Sentuhan akhir Hengky dengan tendangan keras akhirnya membobol gawang Persija yang dijaga Judo Hadianto.

Gol Hengky itu membuat Persib unggul cepat 3-0 di menit 23 babak I.

Setelah itu, Persija mencoba mengejar ketertinggalan dengan mulai terus menerus menggempur pertahanan Persib. Persija berhasil mencetak gol balasan melalui Soetjipto Seontoro.

Gol itu membuat Persija kian bersemangat mengejar skor. Taktik mereka adalah dengan terus mengajak pemain Persib adu lari. Bola dikirimkan sedemikian rupa pada ruang-ruang kosong yang memaksa pemain Persib mengeluarkan segenap staminanya.

“Mundur,mundur,” teriak sang kapten, Rukma, kepada rekan-rekannya tiap kali Persija berhasil menekan Persib.

*) cerita lebih lengkap (termasuk foto-foto langka pertandingan) mengenai pertandingan ini akan muncul di buku yang ditulis @aqfiazfan yang berjudul “Persib Undercover: Kisah-kisah yang Terlupakan”, rencananya akan terbit Maret 2013.

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*