Advertise in this space

Max Timisela : Meninggalkan Mantan Yang Masih Belia di Bremen

February 13, 2013

Perbincangan hangat media lokal Kota Bremen tentang dua pesepakbola asal Indonesia yang kemampuannya mirip dengan permainan “Pele” pasca pertandingan persahabatan Werder Bremen kontra Indonesia di Weserstadion ternyata tak mampu merubah sikap kekanak-kanakan dua pemuda “udik” tersebut.

Di pagi yang dingin dengan cuaca mencapai 16 derajat celcius, hembusan angin musim dingin yang menusuk tulang tak mampu mencegah tindakan konyol yang dilakukan dua pemain belia dengan nama Max Timisela dan Soetjipto Soentoro ini.

Di sela-sela sebelum melakukan aktifitas latihan pagi dan sore hari disaat para pesepakbola lain mempersiapkan alat-alat latihan, Max dan Soetjipto malah sering keluar dari kamar, berdiri di balkon kamar tempat mereka menginap, sembari menghadap ke arah jalan yang diapit oleh taman kota yang menjadi jalur ramai pusat hilir mudiknya warga kota

Para gadis belia Jerman, berbalut mantel tebal serta syal rajut yang melilit di lehernya kerap menjadi korban keisengan mereka. Dari atas lantai 7, lambaian tangan beserta bumbu-bumbu rayuan gombal dengan suara lantang tak sungkan di keluarkan dari mulut comber dua pemain ini. Wajah ketus yang berpaling atau mata yang melotot dari paras cantik gadis Jerman malah membuat keberanian mereka semakin menjadi.

Pucuk dicinta ulam tiba, selang beberapa hari, sosok wanita belia yang diharapkan merespons itupun datang juga, Umurnya berkisar antara 14-16 tahun. Masih duduk di bangku SMP namun tubuhnya seperti wanita berumur 20-an.

Lambaian tangan Maxi akhirnya direspon dengan bahasa tubuh sang gadis yang balik melambainya, perbincangan jarak jauh pun dilakukan. Saat Maxi menanyakan hendak kemana sang gadis pergi, secara bahasa tubuh sang gadis mengangkat tas di bahunya menandakan bahwa ia akan pergi ke sekolah.

Lalu ia pun meminta Maxi untuk turun ke bahwa dengan tangan kanan yang digerakan meminta ia mendekat. Bak macan kelaparan dengan cekatan ia meluncur langsung ke bawah. “Nya puguh we lamun dikitukeun mah urang ge jadi makin wani,” seloroh Maxi kepada penulis.

Namanya Clara –Bukan nama asli karena Narasumber lupa-, kulitnya putih, hidup mancung dengan mata bulat berwarna coklat, dibalik kupluk merahnya terselip rambut pirang yang menjuntai kebawah. Mantel beludru hitam menutupi kemolekan tubuhnya yang ramping dan tinggi, tas kulit hitam tersempil di balik punggungnya menandakan bahwa ia memang betul-betul seorang pelajar. Maxi mendapatinya sangat menarik selama pertemuan pertama itu. Tak banyak kata yang dilontarkan dua sejoli ini, hanya saling berkenalan secara singkat dan berdiri saling mematung satu sama lain sebelum akhirnya Clara berlari menuju sekolah, meninggalkan Maxi seorang diri.

Setiap pagi, Clara sengaja berjalan melambat saat melintas di depan hotel menunggu lambaian tangan Maxi agar harinya semakin bersemangat. Sepulang sekolah, Clara dengan sabar menunggu Maxi pulang dari latihan di kursi lobi hotel. Di atas sofa pojok lobi hotel, hubungan mereka semakin erat, obrolan tentang budaya timur dan barat bercampur baur dalam diskusi mereka.

Sesekali Maxi mengajak Clara untuk berbincang di dalam kamar hotel, namun Clara menampiknya. “Saya masih sekolah, tak etis bagi seorang pelajar untuk bertindak seperti itu,” kilah Clara.

Tiga hari berlalu, hubungan Maxi dan Clara semakin dekat, paras wajah Ambon Maxi yang berkulit coklat serta berambut ikal membuat Clara semakin kepincut, kefasihan Maxi berbahasa belanda yang notabene kosakatanya menyerupai bahasa Jerman membuat komunikasi berjalan mulus tanpa hambatan.

Di awal perkenalan, Maxi hanya menganggap Clara adalah objek keisengan semata, titik puncaknya adalah di hari ketiga.

Kecap kata “Ich liebe dich –aku sayang kamu-” yang diucapkan pagi itu membuat pipi Clara merah merona. “Hayang seuri ningalina, pipina jadi bereum kaciri jelas soalna kulitna bodas sih hihihih,” kata Maxi kepada penulis.

Pengakuannya itu disaksikan oleh pemain lain yang asyik menonton dari balkon di lantai 7. Merasa diperhatikan oleh teman-temannya, dengan nekat Maxi memegang dagu Clara, Ia dekatkan bibirnya dengan bibir Clara. “Ah ku urang dicium we da diditumah emang bebas, barudak di luhur teh malah ngeprokan bari ngajorowok goblog siya mah Maxi!!,” ketusnya sambil tertawa mengingat kekonyolan itu.

Dari rasa iseng timbul rasa cinta, itulah yang dirasakan Maxi kepada Clara. Hari berganti menjadi minggu, genap sudah sebulan Maxi tinggal di Kota Bremen. Kendati kedekatan Maxi dan Clara hanya sebatas cinta monyet semata. Ada keinginan Maxi untuk lebih ke tahap yang lebih serius dengan mengunjungi keluarga Clara , menegaskan eksistensinya didalam kehidupannya.

Namun petaka itu akhirnya datang di petang hari, saat matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Seluruh official dan pemain dikumpulkan didalam suatu ruangan, beberapa menit kemudian Manajer Timnas Kosasih Prawiranegara maju kedepan dan berbicara didepan panggung, Ia mengabarkan bahwa skuad Garuda harus bersiap-siap packing, karena keesokan harinya Timnas harus sudah bergegas meninggalkan Bremen untuk melanjutkan Tour Eropa ke Negeri Belanda.

Bak seperti disambar petir Maxi kaget mendengar berita itu. Rasa cinta kepada Clara yang sudah mulai tertanam dalam hatinya harus dihilangkan dalam sekejap, tak ada jaminan bahwa ia akan kembali bertemu dan memadu kasih kembali dengan Clara, semua yang terjadi dan terlewati.

Usai membereskan pakaian dan segalanya, direbahkan tubuhnya diatas kasur, tatapan matanya tertuju pada langit-langit di atas kamar, Ia bingung untuk mengatakan apa yang terjadi kepada Clara di pertemuan terakhirnya esok hari. Pikirannya mengawang, semakin dalam, semakin sedih ia rasakan, sampai tak sadar dalam lamunan panjangnya butiran air mata menetes dari kedua matanya “Teuing ku naon, urang nyaah pisan ka awewe eta, “ ungkapnya seraya enggan menatap penulis dan mengarahkan tatapan polos ke arah lantai.

Di saat aktifitas warga kota belum terlalu ramai, di pagi yang cukup cerah. berdiri menggigil kedingan Maxi di depan pintu hotel, yang ia tunggu jelas hanya Clara seorang. Sosok yang ditunggu-tunggu itu akhirnya kini berdiri di depan Maxi dengan tatapan keheranan melihat raut kesedihan yang tak biasanya ia lihat. “Pas dibejakeun urang rek ka belanda , si awewe eta kalah ceurik cireumbai. Asa teu tega ningalina oge, si eta nyaah pisan ka urang, urang ge sarua tapi da kudu kumaha, ieu mah urusanna ngabela Negara,

Ada keinginan dari Clara untuk memberikan sesuatu hal special kepada Maxi, Namun karena waktu yang terdesak ia tak bisa memberikan apapun selain saputangan yang dimilikinya saat itu, saputangan berwarna krem diharapkan menjadi pengobat rasa rindu. “Goblogna urang, sapu tangan eta malah di pamerkeun ku urang bari nyerengeh ka barudak nu lalajo ti luhur,” tukasnya sembari merenung mengingat mantan kekasih sesaatnya itu.

 -- Artikel ditulis oleh Aqwam Fiazmi (@aqfiazfan), seorang jurnalis dan akan segera menerbitkan buku pertamanya.

Tags: , , , , , , , ,

3 Responses to Max Timisela : Meninggalkan Mantan Yang Masih Belia di Bremen

  1. Aal on February 13, 2013 at 8:48 pm

    kudu guguru yeuh, ka pa Max timisela haha

  2. denbayan on February 14, 2013 at 12:17 pm

    edasss palentinan nyuguhan dongeng kieu,, prikitiw

  3. mardana17 on February 15, 2013 at 12:16 am

    5 bintang buat crita ini. Alus!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*