Advertise in this space

Perserikatan 1986: Nista, Maja Utama

February 3, 2013

Dalam kurun waktu 5 tahun, terhitung 1978-1983, kancah sepakbola nasional seolah kehilangan aura persaingan yang ketat  dengan absennya tim kebangaan warga Jawa Barat yaitu Persib Bandung.  Selama periode itu, Persib memang terdegradasi dari Divisi Utama pada tahun 1978, dan baru bisa kembali promosi tahun 1983.

Pada musim pertamanya di Divisi Utama, Persib langsung bangkit.  Tim yang waktu itu diasuh oleh mantan pemain Persib era 60an, Omo Suratmo, ini berhasil menjadi tim debutan yang langsung lolos ke grandfinal menantang PSMS Medan di Stadion Utama, Senayan, Jakarta. Sayang, Persib kalah 2-3 melalui drama adu pinalti.  Kendati tanpa gelar, Persib di anugerahi Tim terbaik, dan Adjat Sudrajat menjadi pemain terbaik sekaligus top skor kompetisi dengan 8 gol.

Menjelang Divisi utama Persyerikatan tahun 1985, pergantian pelatih kepala dilakukan dari Omo Suratmo ke Nandar Iskandar.  Di bawah arahan Nandar Permainan, permainan umpan satu dua menjadi ciri khas, membuat Persib saat itu dijuluki sebagai Brazil-nya Indonesia.  Dengan permainan seperti itu, lagi-lagi Persib berhasil masuk ke grandfinal. Dan lagi-lagi, musuh yang harus dihadapi adalah PSMS Medan.

Di laga yang berlangung ketat itu, 2 x 45 menit, skor imbang 2 – 2 tercipta.  Dengan terpaksa, anak-anak Bandung dan Medan  harus mengakhiri pertandingan dengan adu tendangan pinalti.  Memori menyakitkan 1983 terulang kembali, di tengah 150.000 penonton yang waktu itu memecahkan rekor sebagai penonton terbanyak di dunia pada pertandingan amatir, Persib harus menelan pil pahit kalah 3 -4 dari PSMS Medan.

Kegagalan Persib di dua grandfinal berturut-turut dari lawan yang sama yaitu PSMS Medan menimbulkan aroma dendam berkepanjangan,  dalam perkembangannya istilah musuh bebuyutan mulai melekat dalam tim “PSMS Medan”.

Musim 1986, di awali dengan mantap.

Gagal di dua laga final, Persib menatap musim Divisi Utama Perserikatan dengan semangat yang lebih mantap.  Tak banyak  perubahan dilakukan dalam komposisi tim. Perubahan cukup berarti terjadi di posisi kanan penyerangan dengan kembalinya Djajang Nurjaman menggeser posisi A. Kosasih.

Pada klasemen Wilayah Barat, dari 5 tim lawan yang ada yaitu Persiraja Banda Aceh, PSP Padang, PSP Bengkulu, Persija Jakarta, dan PSMS Medan, Persib menduduki peringkat teratas dengan meraih 7 kali kemenangan dan 3 seri.  Dengan posisi ini Persib berhak lolos tampil di babak Enam Besar di Stadion Utama Senayan, didampingi Persija Jakarta dan juara bertahan PSMS Medan.

Di musim itu, untuk ketiga kalinya secara berturut-turut Persib berhasil lolos ke babak grandfinal.  Hanya saja lolosnya Persib disertai dengan tudingan miring di beberapa media nasional yang bernada sinis kepada Persib. Banyak yang menilai lolos Persib ke final bukanlah semata berkat perjuangan dan permainan kolektif tim, melainkan pemberian Perseman Manokwari yang mengalah kepada Persib dengan rela gawangnya dibobol 6 gol tanpa balas di akhir penyisahan grup.

Pada babak 6 besar yang digelar di Jakarta untuk menentukan siapa yang berhak lolos ke pertandingan final, PSSI menggunakan sistem setengah paruh kompetisi. Hanya peringkat satu dan dua saja yang berhak memperebutkan Piala Presiden di laga final. Setelah semua tim menyelesaikan 4 pertandingan, Perseman Manokwari menjadi satu-satunya tim yang didaulat lolos pertama kali ke final. Di 4 laga awal, Adolf Kabo cs berhasil meraih 4 kemenangan beruntun dan menjadi pemuncak klasemen sementara dengan poin 8. Perseman mengalahkan Persija Jakarta 2-1, PSM Ujung Pandang 3-1, PSMS Medan 2-0 dan PSIS Semarang 1-0.

Perseman akan bentrok dengan Persib di pertandingan penutup, berapa pun hasil yang didapat pada pertandingan itu, tak akan mempengaruhi posisi Perseman di puncak klasemen. Selisih poin Perseman dengan 3 tim dibawahnya (Persija, Persib, PSMS) unggul jauh. Di bawah Perseman ditempati oleh Persija dengan nilai 4, diikuti oleh Persib dan PSMS dengan poin sama. Persija hanya unggul selisih gol dengan memasukan 8 gol dan kemasukan 6 gol. Di bawahnya Persib memasukan dan kemasukan 4 gol, sedangkan PSMS medan mengalami defisit 1 gol, karena hanya memasukan 2 gol dan kemasukan 3 gol.

Dari ketiga tim yang berpeluang paling besar lolos ke babak final adalah Persija Jakarta, menang satu atau dua gol dari PSIS Semarang di pertandingan terakhir sudah cukup mengantarkan Persija lolos ke final. Namun dengan catatan Persib harus kalah atau seri saat menghadapi Perseman, jikapun menang, gol yang dicetak Persib tak lebih dari 4-0. Hal yang sulit terjadi jika mengingat kekuatan Perseman yang di empat laga awal berhasil meraih kemenangan beruntun.


Paul cumming lebih memilih Persib

Kamis, 6 Maret 1986, Stadion Gelora Bung Karno. Di saat Pelatih Persib Nandar Iskandar menurunkan skuad lengkap Persib dari lini per lini, tanpa diduga pelatih Perseman Manokwari, Paul Cumming, malah menyodorkan pemain cadangan untuk dijadikan starting line up. Tak ada yang bisa menebak apa keinginan Cumming, apakah dengan menyodorkan pemain itu merupakan suatu sikap “anggap enteng” pada Persib, ataukah “menyimpan tenaga” untuk final, ataukah taktik untuk “memilih teman” ke final.

Namun opsi, ketiga tampaknya menjadi alasan utama, sejalan dengan sinisme media-media yang mengatakan Perseman dan Persib “bermain sabun” . Akhir pertandingan fantastis bagi Persib dengan melumat Persiman 6-0.  Gol dicetak oleh Sukowiyono 11″, Dede Rosadi 25″, IWan Sunarya 29″ Suhendar 17″ dan 51″, serta Djajang Nurjaman 72″ melalui titik pinalti.

Hasil itu seolah tanda bahwa Paul Cunning memberi jalan bagi Persib untuk lolos ke final dan hal ini memang diakui oleh Pelatih Persib Nandar Iskandar.  Ia mengatakan, Perseman lebih memilih lawan Persib karena enggan bertemu dengan Persija dan PSMS yang sama-sama memiliki tipikal permainan “brutal”.

Pola permainan kaki ke kaki Persib dianggap akan mudah diatasi dengan pola permainan kasar yang menjadi ciri khas Persiman. Short-passing Persib tak akan berkutik saat menghadapi long-passing Perseman. Alasan lainnya karena Persib memiliki kelemahan yang sangat vital di posisi wingback, kecepatan Ade Mulyono dan Suryamin, masih kalah cepat dengan Robby dan Halim yang saat itu menjadi wingback Persija.

Namun alasan yang lebih utama, adalah Persiman ingin membalaskan Dendam atas Persib yang di tahun sebelumnya, sempat mengerjai anak-anak Persiman dengan “ikrar” membuat mereka bermain seperti banci, sehingga gagal lolos ke babak grand final. (Baca : Final 1985).

“Lebih enak mengunyah peyeum Bandung,” mungkin hal itu yang ada di benak Paul Cumming.
****************************************
Kendati sudah diberi “jalan” 6-0 oleh Persiman, nasib Persib masih ditentukan laga terakhir antara Persija versus PSIS Semarang di Gelora Bung Karno, 7 Maret 1986. Di pertandingan ini Pelatih Nandar menyempatkan hadir datang ke stadion. Nandar merasakan tegang yang memuncak setelah penyerang Persija Adityo Darmadi mencetak gol ketiga, skor 3-0 untuk Persija. Satu gol lagi dicetak Persija, maka harapan Persib untuk masuk ke babak final untuk ketiga kalinya akan pupus sudah. Untuk menggeser posisi Persib, Persija cukup menang 4-0, meskipun hasil poin dan selisih gol sama 6:6 namun Persija tetap lolos karena unggul head to head. Persib kalah 2-3 dari Persija saat penyisihan babak grup. Beruntung sampai wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir, skor tetap 3-0 dan Persib melaju ke final.

Jakarta – Bandung Lautan biru

Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga.  11 Maret 1985,  puluhan ribu pendukung Persib dari berbagai kota seperti Bandung, Garut, Tasikmalaya,  Ciamis, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Cianjur  dan beberapa kota di Jawa Barat lainnya menginvasi Ibukota.  Dari Bandung saja 10 gerbong penumpang kereta luar biasa (KLB) dan 4 gerbong tambahan KA Parahyangan dipersiapkan PJKA.  204 rombongan bis terdata  menyerbu Jakarta,  jumlah itu belum ditambah pendukung Persib yang menggunakan truk maupun kendaraan pribadi. Sepanjang mata jauh memandang yang terlihat di jalur Bandung – Jakarta via Puncak hanyalah iring-iringan pendukung Persib yang didominasi warna biru putih…….

 

*) cerita lebih lengkap (termasuk foto-foto langka pertandingan) mengenai pertandingan ini akan muncul di buku yang ditulis @aqfiazfan yang berjudul “Persib Undercover: Kisah-kisah yang Terlupakan”, rencananya akan terbit Maret 2013.

Tags: , , , , , , , ,

One Response to Perserikatan 1986: Nista, Maja Utama

  1. agus on February 3, 2013 at 8:28 pm

    Memang sangat bangga jadi bobotoh persib mah mang,da kuayeuna oge pami teu dilarang Pulisi mah tiap lawan persija dijamin Jakarta moal orange tapi Biru,da the jack mah barudak beunceuh loba keneh bobotoh Persib dijakarta oge,,#PesibJuara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*