Advertise in this space

WINDONWEDSTRIJDEN 1937 : Tim Ajaib mengamuk di Solo

February 11, 2013

Warga solo masih tak percaya

Ahad, 17 Mei 1937. Masyarakat Kota Solo dan sekitarnya digemparkan dengan suatu “insiden” yang menjadi pembicaraan semua kalangan, tak tanggung-tanggung hal ini menjadi buah bibir ke semua pelosok daerah di Jawa Tengah, termasuk melebar hingga ke wilayah Madiun dan sekitarnya. R. Ading Afandi menceritakan kondisi yang terjadi berdasarkan penuturan wartawan Sipatahoenan bernama Kurdi, ditambah data-data dari tahun 1937 melalui majalah Olah Raga milik Otto Iskandardinata yang berhasil penulis telusuri.

Suasana hening terasa di semua penjuru Lapangan Sriwedari Kota Solo usai babak final kompetisi PSSI yang mempertemukan tuan tumah Persis Solo menjamu Persib Bandung. Dalam keheningan itu terkadang kata umpatan menyebalkan yang terdengar tetapi menyejukan bagi skuad Persib. “Edan, edan, edan!” ujar Mas Kunto, seorang saudagar domba asal Klaten, fans berat Persis menggambarkan rasa ketidakpercayaannya pada hasil pertandingan.

Raut wajah kekecewaan terpancar dari seluruh penduduk kota. Semua orang memperbincangkan pertandingan ini. “Ajaib! Apa Bener?” tanya seorang kusir andong kepada penumpangnya yang tertunduk lesu duduk di belakang sambil menunjukan keenganan rasa menjawab.

Aneh, kok iso ngono ya mas?” tanya Mbok Sostro pada suaminya Den Mas Wiro yang sengaja datang jauh dari Semarang untuk menyaksikan Persis berlaga.

Ongeloveliljk! (sulit dipercaya) suatu ucapan dalam bahasa Belanda yang dilontarkan Meneer Jono (seorang Komis Kantor Pos Salatiga) kepada temannya yang menggunakan sweater biru di atas tribun.

Di Perempatan jalan, tukang ramal komat-kamit mengacak-ngacak keris yang ia jejerkan. Ramalannya tentang prediksi kemenangan Persis yang akan menang mudah 5-0 jauh api dari panggang.

“Ajaib, edan, Aneh, Sulit dipercaya” hal itulah yang terjadi di hari itu, hari dimana Persib Bandung mampu menjadi juara kompetisi PSSI pertama kali dalam sejarah, serta membalaskan dendam dengan mengalahkan Persis Solo di final dengan skor 1-2, setelah pada tahun sebelumnya, Persis berhasil mempercundangi Persib di hadapan pendukungnya sendiri di Kota Bandung.

Revenche tekortgedaan… Revenche tekortgedaan…

Revenche tekortgedaan” (dendam terbalaskan!). Kata para pemain Persib didalam hati mereka. Masih membekas luka mendalam setahun sebelumnya, saat Persib dipecundangi Persis dengan skor 0 – 2 di Lapangan Tegallega. Padahal, hasil imbang sebenarnya sudah cukup mengantarkan Persib menjadi kampionen.

Dalam babak final penentuan “Windonwedstrijden” dengan sistem grup tersebut sebagai jawara distrik Jawa Barat, Persib satu grup dengan Persis Solo dan PSIS Semarang yang menjuarai distrik masing-masing. Pertandingan pembuka kemenangan telak 7-1 bagi anak-anak Bandung atas anak-anak Semarang, di hari kedua giliran anak-anak Solo yang menghancur leburkan PSIS dengan skor 5-0. Sayangnya, di laga penutup yang berbarengan dengan penutupan Kongres PSSI tahun 1936, Persib harus menelan pil pahit dengan membuat para pendukungnya sedih

Di final harus lawan, Kebo! Mulih njang kandange

Setahun kemudian gantian masyarakat Solo yang harus sedih tim pujaannya kalah di kandang sendiri. Wajar saja masyarakat kota Solo masih tak percaya dengan kekalahan yang didapat tim kesayangan mereka dari Persib, tak seperti biasanya, usai wasit meniup peluit tanda pertandingan 2 x 35 menit berakhir, semua suporter tak langsung meninggalkan tempat duduknya. Semua masih terhenyak, melihat kenyataan pahit yang baru terjadi didepan mata mereka sendiri. “

Di awal turnamen, tak pernah ada terpikirkan Persib akan menjadi lawan yang tangguh. Persis Solo yang kala itu tim unggulan lebih menakuti PSIM Yogyakarta sebagai juara 1932, VIJ Jakarta juara 1933 dan 1934. Tapi karena suatu hal, VIJ mengundurkan diri dari kompetisi dan Persibaja Soerabaia tim debutan yang baru naik daun. Semua orang memprediksi Persis yang akan menjadi juara, keberhasilan menjadi juara bertahan dua kali berturut-turut dengan anggota tim yang tak banyak berubah ditambah sebagai tuan rumah menjadi modal utama bagi Persis.

“Kalau dalam steden-tournooi Persis menang lagi, habislah semua piala. Pepatah Djawa bilang: Kebo! Mulih njang kandange,” tulis Majalah Olahraga edisi Februari 1937 menggambarkan kehebatan Persis.

Di tahun-tahun itu Persis adalah salah satu tim raksasa di Indonesia, di semua lini memiliki Persis memiliki jagoan-jagoan tersendiri, penjaga gawang diisi kiper terbaik (masa itu) Maladi yang terkenal bisa meloncat seperti tupai. Di barisan pertahanan Maryo “Si Kingkong”, kokoh menjulang tinggi siap menjegal semua lawan dibantu Parman dan Handiman. Harno, Jazid, Sutris, Wandi, Soegeng dan pemain-pemain pujaan-pujaan warga Solo lainnya tak percaya melihat Jasin, Arifin, Kucid, Ibrahim Iskandar dan punggawa Persib lainnya menari-nari di depan mereka usai pertandingan sembari menenteng piala di tangannya.

Formasi Ortodok di skuad Persib 1937

Dalam pertandingan melawan Persis Solo, Persib Bandung menggunakan system ortodok dengan pola 2-3-5. Posisi kiper diisi Enang Doerasid, lini belakang diisi oleh Midvoor Dia dan Djaja, barisan tengah ditempati Koetjid di sayap kanan, saban di sayap kiri dan Hasan Arifin di posisi poros halang. Sedangkan untuk lini penyerangan………..

 

*) cerita lebih lengkap (termasuk foto-foto langka pertandingan) mengenai pertandingan ini akan muncul di buku yang ditulis @aqfiazfan yang berjudul “Persib Undercover: Kisah-kisah yang Terlupakan”, rencananya akan terbit Maret 2013.

Tags: , , , , , , , ,

2 Responses to WINDONWEDSTRIJDEN 1937 : Tim Ajaib mengamuk di Solo

  1. mardana17 on February 11, 2013 at 9:05 pm

    Ditunggu bukunya terbitk kang….

  2. Devi Susanti on June 2, 2018 at 9:15 am

    Apakah bukunya sudah terbit?
    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*