Advertise in this space

Himendra Wargahadibrata : Playmaker dan Profesor Persib

March 26, 2013

Waktu menunjukan pukul 17.30, matahari sudah tergelincir ke arah barat, hari mulai gelap. Deretan pasien yang duduk berjejer di bangku kayu mulai menunjukan rasa kegelisahan, takut akan kedatangannya ke sebuah klinik kecil yang berlokasi di Jalan Buah Batu itu tak akan membuahkan hasil. Hal tersebut wajar saja karena klinik yang dimiliki dokter muda ini lebih sering tutup daripada buka karena kesibukan lain sang dokter yang merupakan olahragawan.

Beberapa menit berselang, sang dokter yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, suara decitan rem sepeda menjadi pertanda kedatangan sang dokter. Terlihat dari jauh, tubuh tinggi dan tegap sang dokter dibalut pakaian yang kotor, noda-noda tanah jelas menempel banyak di kaos ketatnya. Yang terlihat unik adalah sepasang sepatu bola kotor yang menggantung di stang sepeda. Pak Dokter ternyata baru saja pulang dari bermain sepakbola. Salah satu dunia yang menemaninya sejak waktu kecil. Aktivitasnya bermain bola setiap sore tak pernah ia tinggalkan, wajar saja jika masyarakat menyebutnya sebagai Dokter Sepakbola, namun dalam plang yang terpajang didepan klinik menuliskan bahwa sang dokter bernama dr. Himendra Wargahadibrata, dialah mantan pemain Persib Bandung pada tahun 1961-1973.

Lelaki yang akrab disapa dengan Hendra ini mulai aktif menjadi pesepakbola di Kota Bandung pada 1961 setelah sebelumnya menghabiskan masa kecil di Ciamis kemudian hijrah tinggal di komplek perumahan elit di kawasan Menteng, Jakarta. Setelah menjadi mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Padjajaran, dia bersama dengan Noegraha Besoes sepakat bergabung bersama klub UNI. Posturnya yang tinggi disertai dengan kecepatan drible yang bagus,”licik”-pandai diving- dan licin membuatnya langsung mengisi pos inti penyerang tengah UNI, bermain kompak bersama Pitje Timisela (kiri dalam) dan abangnya : Hengki Timisela (kanan dalam). Setahun kemudian, pelatih Persib berdarah ambon Tomosoa memintanya untuk masuk kedalam jajaran skuad Persib Bandung, sangatlah sulit untuk bisa menjadi starting line up, ketatnya persaingan betul-betul ia rasakan. Namun akhirnya kesempatan untuk menduduki posisi inti itu akhirnya datang juga. Striker utama Persib yang juga merupakan tulang punggung Timnas Indonesia -Wowo Sunaryo- terlibat kasus suap yang lebih dikenal dengan “Skandal Senayan”, Wowo di skorsing dilarang bertanding seumur hidup, namun hukuman itu direvisi menjadi larangan 8 bulan berkat intervensi presiden Soekarno.

Kesempatan menjadi pemain inti Persib tak disia-siakan Hendra, pemuda berdarah ningrat, turunan Raja Galuh ini seolah selalu dinaungi nasib mujur, selang beberapa minggu kemudian pelatih Timnas Indonesia, Toni Pogaknik dan Djamiat mengirim sepucuk surat memintanya untuk segera bergabung mengikuti pemusatan latihan Timnas Yunior guna persiapan menghadapi event Asean Games, Merdeka Games dan Ganefo.

Enam bulan berlalu, di sela-sela mengikuti TC, sepucuk surat yang diantarkan langsung ke tangannya sontak membuat ia kaget dan bingung, badannya mendadak lemas, Terlebih surat itu datang dari instansi pendidikan Fakultas Kedokteran Unpad, tegas sekali isi dalam surat itu, meminta Hendra untuk mengambil satu keputusan dan meninggalkan pilihan lain. “Kuliah atau Sepakbola”. Keputusan yang sangat sulit bagi seorang pemuda yang baru menginjak usia 19 tahun.

Selama beberapa hari, ia memikirkan matang-matang pilihannya itu, kesehatannya pun sempat memburuk, penyakit tipus menyerang. Akhirnya pada bulan ke tujuh Hendra mendatangi pelatih Toni Pogaknik. Jelas kedatangannya itu untuk menyatakan ia ingin mengundurkan diri dari Timnas. “Ini bukanlah dunia saya, saya ingin kembali ke Bandung dan meneruskan pendidikan kedokteran saya,” dengan tegas ia ucapkan.

Memang terasa menyesakkan, pintu gerbang dunia luar seakan membanting ke arah mukanya. Menutup segala angan-angan, harapan, impian dan cita-cita sebagai seorang pesepakbola ternama yang bisa mengharumkan nama bangsa di mata bangsa-bangsa lain. Namun siapa sangka, Tuhan memang adil, andaikan Hendra memilih fokus untuk menjadi pemain bola mungkin ceritanya tak ada dalam buku ini, keputusan yang ia ambil adalah tepat adanya. Sepulang dari timnas, dia fokus untuk menyelesaikan studi kedokteran yang sempat tertunda, kendati begitu ia pun masih tetap memperkuat Persib hingga tahun 1973. Ketenaran yang ditakutkan hilang ternyata tetap ikut menyertai, sebagai salah satu pemain Persib yang menyandang status gelar Dokter, nama Himendra sangatlah terkenal.

Di usianya yang ke 30 tahun, Hendra akhirnya memilih untuk gantung sepatu dan lebih memilih fokus mengantungkan stetoskop di lehernya. 15 tahun kemudian karir sebagai dokternya kian mentereng. Berpergian ke luar negeri kerap ia lakukan, kunjungannya bukan untuk bertanding sepak bola, tapi sebagai akademisi dengan titel Doktor di bidang kesehatan. Sebagai dokter spesialis anestesi -yang langka di Indonesia- Hendra hidup mapan dan nyaman, jabatan tinggi di beberapa Rumah Sakit membuat ia hidup bak seorang Don Juan, berbeda dengan para mantan Persib lain. Keputusannya untuk meninggalkan Timnas, membuat Hendra menjelma menjadi sosok yang sukses. Dengan titel seperti itu, tak banyak orang menyangka bahwa sang Doktor memiliki gelar lain yaitu sebagai mantan Persib.

November 1998, saat Indonesia masih dalam tahap awal era reformasi, setelah mengabdi menjadi pembantu rektor sejak tahun 1987 -dengan gelar berderet yang semakin bertambah- Prof. Dr,(h.c.) Himendra Wargahadibrata dr.Sp.An, KIC. akhirnya terpilih menjadi Rektor Universitas Padjajaran, Sang Playmaker kini menjadi bapak asuh dari ribuan akademisi yang terdidik. Dalam ruangan kantornya di Jalan Dipati Ukur, tak jarang pola-pola dunia sepakbola ia terapkan dalam mengurusi Unpad. Dulu, ketika di lapangan sepak bola terjadi perkelahian antar pemain, Hendra selalu menjadi wasit yang melerai. Kini didunia kampus jika ada perseteruan maka ia akan mendengarkan permasalahan dari dua pihak sekaligus memberikan penyelesaian, jika tetap kekeuh enggan berdamai, tak segan ia mempersilahkan mereka untuk “gelut” sendiri seperti di lapangan bola.

Dalam renungannya diakui sangat, setinggi apapun titel dan jabatan yang didapat, Himendra Wargahadibrata tetaplah seorang playmaker ahli diving yang selalu beranggapan sepak bola keluarannya hanya dua yakni bermain cantik tapi kalah atau bermain jelek tapi menang..

ah profesor kami rindu melihat gerakan licin dan “licik” mu..(

*Berbagai sumber

*Penulis adalah seorang jurnalis muda dan peneliti sejarah sepakbola Indonesia di Pandit Footbal Indonesia yang baru saja menyelesaikan buku pertamanya berjudul “Persib Undercover : Kisah-kisah yang terlupakan,” untuk berdiskusi dapat melalui akun twitter @aqfiazfan.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*