Advertise in this space

My Pride is Mengbal

April 30, 2013

Sepakbola di zaman ini sudah berkembang pesat menjadi era sepakbola industri, era dimana kapitalisasi industri masuk ke area sepakbola . Bagaimana sebuah tim bisa dibangun dengan kekuatan uang dan menjadi juara dalam jangka waktu yang sangat pendek. Hasil dan raihan gelar adalah target utama. Mendatangkan pemain – pemain bintang kelas satu dengan gaji tinggi merupakan langkah sukses untuk meraih juara dengan sesegera mungkin dan mendapatkan ‘moneyback’ dari pendapatan sponsor, tiket, hak siar televisi, serta uang-uang lainnya yang akan masuk sebanding dengan prestasi yang didapat.

Itulah gambaran sepakbola modern yang kita temui sekarang ini, tim-tim besar akan menjadi semakin besar saja, tim-tim kecil akan mencoba untuk bertahan sekuat tenaga untuk tetap bisa mempertahankan eksistensinya di era ini. Tak terkecuali supporter, mereka harus rela dihadapkan pada bagian-bagian dimana mereka mengeluarkan uang untuk memperkaya tim tanpa benar-benar tahu apa sebenarnya timbal balik yang mereka dapatkan atas uang yang mereka keluarkan untuk membeli tiket, merchandise, dan pos-pos lainnya.

Namun apapun itu, selalu ada antiteori dalam hidup ini, teori yang bertentangan dengan teori yang ada sekarang, atau teori yang sudah usang namun tetap bisa bertahan tanpa lekang oleh waktu untuk melawan teori yang sedang ada dan digunakan.

Sepakbola hanyalah sepakbola, sejauh, semodern dan sebesar apa industrinya sepakbola akan tetap menjadi ‘sepakbola’. Kontrak besar, pindah tim untuk kepentingan karir yang diakomodir oleh klub baru dengan timbal balik prestasi, bermain selama 90 menit, menang, kalah, lalu selesai. Seperti kita bekerja pada perusahaan yang menggaji kita. Masuk kantor, selesaikan tugas, lalu pulang. Sepakbola industri sejujur-jujurnya hanya ada di batas itu.

Di Bandung , kita punya mengbal. Mengbal adalah bahasa lain dari sepakbola di kota ini. Jika Italia punya calcio, Amerika Serikat punya soccer untuk sebutan akan sepakbola, Bandung punya mengbal. Mengbal artinya bermain sepakbola (dalam bahasa sunda slank). Mengbal lebih luhur daripada sepakbola itu sendiri. Jika sepakbola hanya datang, bertanding, menang, lalu pulang, mengbal berada jauh diatas level itu. Mengbal adalah ruh yang sudah masuk jiwa dan raga secara sadar atau tidak, mengbal adalah bagaimana kita bermain sepakbola dengan sepenuh hati, sepenuh taktik, dan bermain berdarah-darah untuk menjaga harga diri klub, daerah, dan kebanggaan tanpa perlu embel-embel uang. Mengbal untuk kota ini adalah kebanggaan (pride) dan rasa memiliki.

Di Eropa, Athletic Bilbao melakukan mengbal, mereka tidak membeli sepakbola, tetapi mereka mengbal. Adalah bahwa pemain yang bergabung dengan Athletic Bilbao haruslah bangsa Basque, tidak boleh ada pemain lain yang bermain untuk klub ini selain orang Basque. Orang Basque boleh bermain ke tim lain, tetapi tidak akan pernah ada pemain non-Basque yang bisa bermain untuk tim ini. Bilbao salah satu anti teori dalam era sepakbola bisnis.

Contoh lain akan my pride is mengbal adalah Francesc Fabregas. Bagaimana dia dibesarkan, diajarkan, dan dibimbing di akademi La Massia bersama Leo Messi dan Gerard Pique sejak usia anak-anak. Fabregas kecil mempunyai mimpi ingin menjadi seperti kapten Barcelona senior pada masa itu yaitu Pep Guardiola. Fabregas kecil mempunyai jersey nomor punggung 4 bertuliskan Guardiola. Perjalanan membawanya harus membesar di liga Inggris, Cesc bermain sepakbola di Arsenal hingga saat tiba dia mendapat pengakuan sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia dan menjadi kapten di Arsenal. Tetapi bagaimanapun, sepakbola hanyalah sebatas itu, Fabregas tetap mempunyai hati kecil yang lain, mimpi masa kecilnya adalah menjadi Guardiola, bukan menjadi Patrick Vieira. Sehingga saat panggilan untuk ‘pulang’ ke Barcelona akhirnya benar-benar tiba, Cesc tak kuasa untuk berreuni kembali dengan sahabat-sahabat kecilnya seperti Messi dan Pique di ‘rumah’ nya sendiri. Fabregas pindah dan rela untuk tidak mendapatkan uang sebesar di Arsenal untuk menggapai mimpi masa kecilnya. Lebih dari itu, dia rela untuk tidak selalu bermain sebagai pemain inti di Barcelona. Fabregas di titik ini telah melakukan mengbal, bukan lagi sepakbola. Dia mengikuti kata hati dan pride yang ada dalam dirinya.

Di Bandung, kita memiliki Persib, sebuah tim yang akan dan selalu kita jaga dengan baik namanya. Persib 95’ adalah salah satu generasi tim yang bermain sangat pride dan mengbal. Sebuah tim tanpa pemain asing, tim hasil dari proses panjang yang fondasinya dibuat sejak tahun 1986. Tim yang secara individu tidak terlalu istimewa tetapi menjadi luar biasa ketika bermain bersama. Mengbal mempersatukan mereka, Persib 95’ satu-satunya tim eks perserikatan yang lolos ke semifinal diapit tiga tim jebolan galatama. Persib 95’ di final harus menghadapi Carlos de Mello, Jacksen Tiago, Darryl Sinerine, Eri Irianto, Widodo C Putra, nama-nama besar yang bermain untuk Petrokimia Putra Gresik.

Persib praktis hanya mempunyai Robby Darwis sebagai pemain dengan label ‘bintang nasional’, tapi itu tak membuat nyali Persib harus ciut. Adalah Indra Thohir yang membuat jiwa-jiwa pemain Persib saat itu menjadi terbakar. Saat team talk sebelum pertandingan, Indra Thohir sudah tidak lagi membahas soal taktik, dia hanya berbicara “bobotoh sudah datang jauh-jauh ke sini untuk mendukung kalian, bisakah kita membahagiakan mereka? Jangan buat malu Jawa Barat, nama baik Jawa Barat sekarang ada di pundak kalian, sok ayeunamah geura prung tarung”. Sebuah team talk yang akhirnya berhasil membakar semangat pemain. Indra Thohir lebih memilih menyentuh sisi psikologis para pemainnya di partai final ini. Indra Thohir telah melakukan mengbal.

Saat yang ditunggu tiba, menit 75″ menuju menit 76″ Robby Darwis memberikan bola pada Dede Iskandar di sisi kiri pertahanan Petrokomia, Dede Iskandar memberikan passing kepada Asep Kustiana, Asep Kustiana melakukan crossing jauh kepada Sutiono Lamso, bola jatuh di kaki Yusuf Bachtiar, alih-alih menendang, Yusuf malah memberikan umpan kepada Sutiono dan mengecoh Sasi Kirono yang menyangka Yusuf akan menendang langsung. Dengan tanpa control lagi, Sutiono melesakan bola dengan kaki kirinya ke pojok kiri gawang Darryl. Sebuah gol yang prosesnya dicetak dalam 24 detik sejak bola berada di kakai Robby Darwis. 24 detik yang mengubah segalanya, 24 detik yang menuliskan sejarah. Dalam edisi ini, MY PRIDE dan Mengbal mencoba mendokumentasikan sejarah itu melalui chalkboard atas gol Sutiono.

Industri sepakbola yang berkembang pesat akan tetap memberikan tempat pada jiwa-jiwa yang mempunyai pride, sepakbola akan selalu berkembang sesuai jamannya, tetapi mengbal dengan pride di dalam dada juga tak akan pernah mati sampai kapanpun.

Mengbal lebih luhur dari sepakbola, mengbal adalah kebanggaan yang akan selalu diperjuangkan oleh orang-orang yang berani, kebanggaan saya adalah mengbal, My Pride is Mengbal.

 

a join inspiration of @OfficialMyPride x @mengbal

Tags: , , , , , ,

4 Responses to My Pride is Mengbal

  1. aduy on April 30, 2013 at 8:34 pm

    Mengbal, bukan soal fonem. Tapi rasa… Jos!

  2. aduy on April 30, 2013 at 8:40 pm

    Mengbal, bukan soal fonem. Tapi rasa… sama seperti kata ‘nu aing’ yang tak bisa sesederhana diterjemahkan menjadi ‘punya saya’. Jos!.

  3. Rizky on April 30, 2013 at 9:31 pm

    This is the real MENGBAL *keprok heula*

  4. SAL on April 30, 2013 at 11:41 pm

    Yes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*