Advertise in this space

Post Match Persib – Persepam: “Transisi Formasi dan Padunya Hilton-Ridwan-Supardi”

May 21, 2013

Persib Bandung kembali meraih kemenangan pada laga kedua di kandang kala menjamu Persepam Madura United. Laga yang banyak memunculkan hal-hal yang menarik apabila dibahas secara taktikal ini berakhir dengan skor 2-1.

Bagaimana Persib Bandung meraih kemenangan pada laga ini, dan bagaimana perlawanan Persepam Madura United dalam membalas strategi Persib? Berikut adalah ulasannya.


Persib tampil dengan formasi 4-4-2 di awal pertandingan. Hilton sendiri tampil sebagai starter untuk pertama kalinya, setelah pada putaran pertama kemarin ia memperkuat Sriwijaya FC. Aang Suparman masuk dalam susunan starting line-up menggantikan Abanda yang harus absen karena akumulasi kartu kuning.

Dikubu Persepam, 4 pemain asing yang baru didatangkan pada putaran dua Liga Super Indonesia yaitu Amadou Konte, Emile Linkers, Elliot Gomes dan Aboubakar Sillah tampil dari awal pertandingan.

Dilihat dari jalannya pertandingan, dapat dikatakan sisi lateral sebelah kanan Persib merupakan sisi yang paling aktif dalam permainan. Pada area tersebut, Persib gencar melakukan inisiasi serangannya. Namun, pada area tersebut pula Persib kerap mendapatkan serangan yang digencarkan oleh anak-anak asuh Danier Roekito.

Dilihat dari sudut pandang penyerangan, Persib berusaha memaksimalkan potensi para pemainnya dalam menyisir sisi kanan. Triangulasi Supardi – Hilton – M. Ridwan kerap bekerjasama bahu-membahu dalam membangun serangan. Gol yang di cetak oleh M. Ridwan pun tak lepas dari kerjasama antar 3 pemain ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sisi kanan Persib memang lebih padu karena M. Ridwan dan Supardi telah lama bekerja sama, yaitu semenjak keduanya membela Pelita Jaya pada musim 2008/2009. Apalagi pada musim kemarin, ketika M. Ridwan dan Supardi memperkuat Sriwijaya FC, Hilton juga bermain disana. Komunikasi lebih mudah terbentuk karena ketiganya memang pernah bekerjasama dalam satu tim.

 

Di sisi lain, apabila dilihat dari sudut pandang bertahan, Persib acapkali menerima serangan dari sisi kanan pula. Supardi yang kerap naik acap kali meninggalkan lubang yang kemudian dimanfaatkan Persepam. Bahkan, 50% arus bola yang mengalir ke area kotak penalti Persib berasal dari sebelah kanan penyerangan.

Selain itu, umpan-umpan teroboosa yang diinisiasi oleh Persepam pun diarahkan pada ruang antara Supardi dan Aang. Tercatat ada 3 throughpass yang mengarah ruang tersebut.  Dua diantaranya berhasil dijadikan attempts, dan dari 2 attempts tersebut satu berbuah gol yang dicetak oleh Elliot Gomes.

Transisi Formasi Persib

Hal menarik lainnya adalah transisi formasi Persib pada pertandingan ini. Pada awal pertandingan, Persib menggunakan pakem 4-4-2 dengan tandem Hilton – Sergio van Dijk di lini depan. Ketika Persib menggunakan formasi tersebut, Persib lebih bermain bertahan dengan  menahan bola di areanya sendiri sambil sesekali memanfaatkan celah yang terbuka guna melancarkan serangan balik.

Kondisi tersebut berubah ketika Busari masuk menggantikan Michael Orah pada menit ke-34. Menyadari bahwa sisi kanan Persib menjadi titik lemah, pelatih Djadjang Nurjaman mengubah formasi timnya menjadi 4-2-3-1. Melalui formasi tersebut, Persib menggunakan double-pivot yang bertumpu pada Hariono dan Firman Utina.

Kedua double-pivot tersebut berperan dalam menjaga area yang ditinggalkan oleh kedua fullback Persib ketika melakukan agresi serangan ke area lawan. Selain itu, double-pivot disini juga berperan sebagai pemberi passing-passing pendek guna menjaga penguasaan bola atas Persepam Madura United.

Firman Utina sendiri tercatat menjadi pemain yang paling sering melakukan passing kepada rekan-rekannya. Ia pun memiliki presentase complete passing sebesar 84%. Hal yang patut ditelaah adalah alur bola ke depan yang dia lakukan lebih banyak dialirkan melalui bola-bola long ball. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah karena gaya permainan ini cocok dengan Hilton maupun Sergio van Dijk yang memiliki kendali bola daerah sama baiknya.

Dalam pertandingan ini sendiri, peran pemberi umpan crossing ke area kotak penalti dimainkan oleh Supardi dan Tony Sucipto. Sementara Atep dan M. Ridwan diinstruksikan untuk bermain lebih ke dalam guna menerima umpan yang dialirkan oleh dua bek sayap tersebut.

Tak heran jika Supardi mencatatkan diri sebagai pemberi assist gol M. Ridwan. Satu umpan crossing-nya mampu dimanfaatkan mantan pemain PSIS Semarang tersebut untuk jadi gol. Supardi sendiri memiliii catatan crossing berupa 6 kali completed crossing dari 8 kali attempts. Sementara itu Toni Sucipto hanya mencatatkan 1 kali attempts, dan itu pun gagal menjadi umpan matang bagi rekan-rekannya.

Hal lain yang bekerja pada formasi 4-2-3-1 adalah trio gelandang serang Persib, M. Ridwan—Hilton-Atep,  acap kali saling bertukar posisi dalam menggencarkan serangannya. Atep sendiri sempat melakukan 1 umpan silang di area kanan serangan Persib. Ini menunjukkan bahwa para gelandang Persib diberikan keluasaan dalam bergerak dan berpindah zona.

Jika dilakukan perbandingan, alur serangan yang dibangun dari sisi kiri penyerangan Persib berbanding terbalik dengan sisi kanan penyerangannya. Bahkan, pada babak ke-2, tidak ada sama sekali crossing yang berasal dari sisi kiri penyerangan Persib. Ini berbeda dengan sisi kanan penyerangan yang mampu melakukan umpan silang sebanyak 8 kali.

Kurang padunya triangular Tony – Hilton – Atep bisa jadi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sisi kiri penyerangan Persib mati. Selain itu, jika merujuk pada pergerakan Atep, pemain asal Cianjur tersebut lebih sering bermain di area tengah sehingga tidak banyak kerjasama yang ia bangun di sisi kiri.

Kesimpulan

Umumnya, Persib bermain dengan formasi 4-4-2 yang hanya terpaku pada pergerakan pemain yang mengisi pos di flank kanan. Namun, pada laga ini Persib Bandung menerapkan gaya bermain yang cukup berbeda pada laga-laga sebelumnya. Khususnya ketika terjadi perubahan formasi jadi 4-2-3-1 di pertengahan babak pertama.

Peran double-pivot yang bertugas menjaga area yang ditinggalkan fullback dapat dimainkan dengan baik. Kehadiran Hilton yang menjadi faktor pembeda pada laga ini. Ia membuat serangan Persib tidak hanya terpaku pada pergerakan M. Ridwan dan Supardi saja. Terkadang, Atep pun kerap berada pos yang seharusnya diisi oleh M. Ridwan.

Memang, jika diamati secara seksama, aktifitas pemain dan arus bola yang dialirkan ke kotak penalti lawan masih banyak berasal dari area flank kanan. Namun, kehadiran Hilton yang fasih dalam membagi bola, membuka ruang, juga bermain dibelakang striker membuat serangan Persib lebih bervariasi.

Mengingat jalannya kompetisi masih cukup lama, bisa dipertimbangkan pemberian porsi latihan yang tidak hanya mengintensifkan pada sisi kanan penyerangan. Bukan lah hal yang tidak mungkin jika suatu saat Persib bermain dengan sama baiknya ketika melakukan serangan baik melalui sisi kanan, kiri maupun tengah.

Tags: , , ,

One Response to Post Match Persib – Persepam: “Transisi Formasi dan Padunya Hilton-Ridwan-Supardi”

  1. denbayan on May 22, 2013 at 9:24 am

    sayangnya no 7 performnya menurun mudah-mudahan kedepannya naik lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*