Advertise in this space

Dinamika Politisasi Persib dari masa ke masa (Bagian 1)

June 13, 2013

Sepakbola dan Politik di Indonesia pada khakikatnya adalah sebuah simbiosis mutualisme yang saling berkaitan dan menguntungkan satu sama lainnya. Terlebih di era kebablasan Demokrasi saat ini. sepakbola adalah salah satu alat efektif dari sekian banyak alat untuk mengumpulkan massa.

Dalam sejarahnya pun di awal abad 20, di Sumatera Utara pernah ada suatu klub lokal yang menawarkan dirinya kepada politikus Belanda untuk menjadikan klub tersebut sebagai ajang kampanye. hal ini membuktikan bahwa memang politisasi sepakbola adalah sesuatu hal yang lumrah di negeri ini, yang tentunya diturunkan dari generasi ke generasi.

Disisi lain, pengelolaan sepakbola kita yang masih amatir mau tak mau harus membuat sepakbola tak bisa lepas dari keberadaan politisi yang mempunyai gold and power. Untuk mendapatkan dana segar APBD tentunya butuh peran politisi, untuk dipermudah segala izin keamanan dan tetek bengeknya  perlu politisi, untuk mempermulus raihan gelar pun perlu dan perlu adanya politisi. Suatu alasan logis kenapa sepakbola Indonesia tak bisa lepas dari keberadaan politik.

Mempolitisasi sepakbola boleh-boleh saja, asalkan mampu membawa manfaat dan madharat bagi sepakbola dan masyarakat itu sendiri. Bagaimanapun juga pada mulanya, PSSI yang didirikan Soeratin pun adalah sebuah sebuah organisasi politik yang digunakan untuk melawan kolonialisme.

Hal ini tersirat dalam pidato Soeratin di Kongres PSSI tahun 1938 yang digelar di Yogyakarta, secara gamblang ia mengakui organisasi yang ia dirikan terinspirasi dari gerakan budi utomo. [soal sejarah politik sepakbola Indonesia kita bisa melihat hasil riset @panditfootball di kanal about the game detiksport]

Bagaimana dengan Persib Bandung?

Penamaan identitas “Persib Bandung” pun pada kenyataanya adalah sebuah konstelasi politik.  Di saat dua klub besar pendiri PSSI yaitu Voetbal Indonesische Jacatra (VIJ) dan Soerabaja Indonesische Voetbal Bond (SIVB) tetap bertahan dengan identitas ke”belanda”anya, Bandoeng Indonesische Voetbal Bond (BIVB) lebih memilih bervolusi nama menjadi Persib Bandung agar kental keindonesiaanya.

Apa yang dilakukan oleh pengurus Persib pun pada dasarnya dilatarbelakangi oleh hal yang berbau politik yaitu untuk sejalan dengan isi dari Sumpah Pemuda tahun 1928: berbahasa satu bahasa Indonesia.

Politisasi dan Militarisasi Persib di Era Sukarno.

Seiring dengan berjalannya waktu, politisasi didalam Persib memang berevolusi sesuai dengan zamannya. Jika di zaman kolonialisme Persib dijadikan sebagai alat menentang kolonialisme itu sendiri, memasuki periode orde lama era Soekarno awal tahun 1960an. Persib dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan demokrasi terpimpin. Politik adalah panglima, itulah judul besar dari era Demokrasi Terpimpin Soekarno dulu. Dan kenyataanya olahraga adalah salah satu eksperimen terpenting Soekarno dalam mewujudkan manifestonya tersebut.

Dukungan kuat dari kalangan militer khususnya angkatan darat kepada Soekarno otomatis membuat olahraga dikuasai oleh kalangan militer, Di Persib pun terjadi demikian. Periode tahun 60an boleh dikata Persib adalah satu klub yang dimiliterisasi oleh tentara lebih tepatnya Kodam III Siliwangi. Para pengurus Persib didominasi perwira menengah militer dari pangkat mayor hingga kolonel.  Selama gelaran final kejurnas 1961 di Semarang, mulai dari pakaian seragam hingga kendaraan yang dipakai pun tak lepas dari hal yang berbau militer.

Tetapi tak selamanya keterkaitan antara  politik dan Persib selalu menghasilkan hal negatif, toh dari politisasi dan militerisasi tersebut ternyata mampu membuat Persib meraih gelar juara nasional di tahun 1961.

Persib membantu melanggengkan kekuasan Golkar di era Soeharto?

Lain orde lama, lain pula Orde baru. Saat itulah demokrasi Indonesia semu memasuki masa-masa suram dengan poros Golkar sebagai puncak rantai makanan. untuk mempertahankan dinasti Cendana, Soeharto menggunakan beberapa cara untuk meredam sikap kritis dari publik salah satunya adalah dengan menggunakan Sepakbola.

Apa yang dikatakan Pemikir radikal Amerika Serikat Noam chomsky menjadi benar. Dalam buku Media Control the Spectacular Achievements of Propaganda ia mengatakan sebuah konsepsi lain dari Demokrasi adalah jangan sampai publik terlalu aktif dalam berpolitik, biarkanlah kaum pandir ini hanya sebagai Pemirsa bukan pemain bagi kegiatan politik.

Chomsky mengutip sebutan “Kaum Pandir” dari teori progresif  pemikiran Demokrasi Liberal-nya Walter Lipman.  Kaum pandir yang ditasbihkan Lipman adalah mayoritas besar dari populasi yang tidak termasuk kelompok kecil pemegang kekuasaan. Secara gamblang Chomsky mengatakan salah satu upaya efektif untuk mengalihkan perhatian kaum pandir adalah dengan sepakbola. Dan memang hal itu terjadi di sepakbola Indonesia, khususnya Bandung.

Saat rezim orde baru berkuasa, sepakbola adalah satu alat untuk meredam resistensi generasi anak muda menentang rezim, upaya yang dilakukan adalah dengan membuat lalai. Kecintaan masyarakat Jawa Barat terhadap Persib dan sepakbola dimanfaatkan oleh rezim dengan melegalkan perjudian. orang menyebutnya sebagai porkas.

Sebagian orang berbondong-bondong ke stadion bukan ingin mendukung tim idola tapi ingin lihat hasil hasil tebakannya jitu atau tidak. Hadir di stadion pun akan membuat petaruh jeli, siapa-siapa saja pemain yang kena suap.  Hal ini bisa dijadikan pelajaran untuk taruhan di pertandingan selanjutnya.

Tak hanya itu, sudah menjadi kodratnya dari zaman RAA Wiranatakusumah V yang pernah menjadi Menteri Dalam Negeri pertama republik ini hingga zaman Dada Rosada yang gagal mencalonkan jadi Gubernur, Persib memang selalu dekat dengan birokrasi.

Saat menjadi juara tahun 1937, setiba turun dari statsiun usai menjadi juara dalam laga final di Solo hal pertama yang dilakukan Persib adalah menyambangi pendopo dalem kaum mendatangi penghuni Dalem Bandung dan Wiranatakusumah V yang sudah lama menunggu.

Saat menjuarai Kompetisi Perserikatan tahun 1961,1986,1990,1994 dan 1995 pun sama.  Usai Juara, hal yang pertama selalu dikunjungi adalah mendatangi kediaman para penguasa. Kalau tidak gedung sate ya balai kota.  Kedekatan Persib dengan birokrasi mulai sedikit terikat di tahun 1980an, saat Persib kembali bangkit dari masa keterpurukannya.

Persib terkadang dijadikan sebagai tunggangan untuk pencitraan. Dan yang jadi korban terkadang adalah birokrasi itu sendiri. Orang masih ingat ketika pemerintah kota Bandung di zaman Ateng Wahyudi membuat suatu keputusan iuran paksa kepada PNS untuk menyumbang kepada Persib. Bagi yang cinta Persib sih sah-sah saja, tapi yang tidak? Tentu kedongkolanlah yang ada.  Di masa itu, PNS pun kerap dikerahkan ke Senayan untuk memberikan dukungan kepada Persib ironisnya terkadang pertandingan digelar saat hari kerja. Otomatis pelayanan terhadap publik pun jadi terganggu.

Sejarah memang selalu berulang, demikianlah benar adanya. Jika di masa ini Sergio Van Dijk dijadikan boneka kampanye oleh Umuh Muchtar untuk memenangkan Pilwalkot. Maka banyak pemain Persib di zaman itu dijadikan juru kampanye untuk memenangkan Partai Golkar. Begitulah pengakuan beberapa mantan pemain kepada saya. Entah mengapa tanpa menggunakan pemain Persib tentunya Golkar sudah pasti akan menang, tapi ya itulah namanya politik.

Pola inilah mungkin yang ingin ditiru oleh The Godfather saat ini. Tapi dunia sudah berubah bung, tak apalah jika anda meniru penerus anda. Animo orang saat ini terhadap sepakbola tak seheboh seperti di dekade 1980an, sekarang prestasi surut pembinaan melempem, tak ada yang dibanggakan. Harapnya sih ya wong yang ditiru itu juaranya bukan politisasinya dong ah. Di era Orde lama dan Orde Baru para politikus yang menjadi bagian dalam Persib mengunakan kekuatan politik mereka untuk membangkitkan kejayaan Persib [akan saya bahas dalam artikel khusus]..

sekarang??

Bersambung….

*Penulis : Aqwam Fiazmi Hanifan, Mahasiswa Tingkat Akhir penggemar Persib dari kecil. Bersama dengan Novan Herfiyana menulis buku “Persib Undercover : Kisah-kisah yang terlupakan” bisa berdiskusi melalui akun twitter @aqfiazfan.

One Response to Dinamika Politisasi Persib dari masa ke masa (Bagian 1)

  1. Site on May 21, 2016 at 1:52 pm

    Dua kali Persib harus puas sebagai runner-up setelah kalah adu penalti. Pertandingan final 1984-1985 mencatat rekor penonton karena membeludak hingga pinggir lapangan. Dari kapasitas 100.000 tempat duduk di Stadion Senayan, jumlah penonton yang hadir mencapai 120.000 orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*