Advertise in this space

Post Match Gresik United 2 vs 1 Persib: “Matinya Lini Tengah Persib”

June 4, 2013

Persib harus pulang dari tour jawa timur dengan tangan hampa, setelah kalah melawan Arema Jumat (31/5) lalu. Maung Bandung kembali kalah dalam tour selanjutnya ke kandang Gresik United dengan skor 2-1. Absenya Hariono dan Firman Utina yang terkena hukuman akumulasi kartu, mempengaruhi permainan Persib. Sektor lini tengah Persib kalah dalam penguasaan bola, praktis sepanjang pertandingan Gresik United mampu menguasai permainan.

Gresik Melakukan Pressing Hingga Daerah Persib

Seperti pertandingan sebelumnya melawan Arema, pelatih Widodo Cahyono Putro paham kelemahan Persib di sektor pertahanan. Dimana pemain belakang Persib selalu panik ketika di pressing. Ketika di press dan panik pemain belakang Persib cenderung melakukan clearance ke depan daripada melakukan passing ke tengah, menuju Asri Akbar maupun Mbida Messi.

Dengan kondisi demikian sepanjang pertandingan, otomatis penguasaan bola menjadi milik Gresik United. Bahkan dibabak pertama presentase penguasaan bola mencapai 60% – 40% untuk keunggulan Gresik United.

Menggunakan formasi 4-2-3-1, menempatkan Nofriansyah didepan dengan Sultan Samma dibelakangnya serta Matsunaga dan Siswanto masing – masing di flank kiri dan kanan. Pelatih Widodo menginstruksikan untuk menekan melalui ke empat pemain tersebut. Justru ketika bola berada dipertahanan Gresik United, kedua doble pivot Kacung Munif dan Lan Bastian lebih cerdik dengan menempati posisi yang tepat, untuk memotong umpan maupun merebut bola dari kaki Mbida maupun Asri Akbar dan tidak melakukan pressing. Tercatat 5x Lan Bastian berhasil melakukan intercept dengan cerdik dari Asri dan Mbida Messi

Walaupun terus melakukan pressing didaerah Persib, namun tekanan yang ada sebenarnya tidak terlalu besar. Karena striker utama Gresik United, Aldo Bareto harus absen. Secara agresivitas dan kecepatan, jelas Aldo lebih unggul daripada Nofrianyah yang menggantikanya. Namun tekanan untuk harus menang dikandang Gresik United, membawa beban bagi para pemain Persib. Akibatnya pemain Persib selalu panik ketika ditekan, terutama barisan backfour.

Absenya Hariono dan Kegagalan Asri Akbar – Mbida Messi

Bermain tanpa Hariono yang terkena akumulasi kartu kuning, pelatih Jajang Nurjaman memasukan Asri Akbar untuk mendampingi Mbida Messi. Bermain sebagai gelandang bertahan, Asri bermain buruk dengan sering kalah berduel dengan Lan Bastian gelandang Gresik United. Asri gagal berperan sebagai pemain yang menjemput bola dan memindahkan bola antar lini terutama dari belakang ke tengah.

Sejalan dengan kegagalan Asri Akbar, Mbida Messi juga tidak mampu berperan sebagai playmaker dengan baik. Mbida lebih sering gagal dalam melakukan passing diagonal yang menjadi ciri khasnya. Akurasi umpanya juga tidak sebaik biasanya, jika dipertandingan – pertandingan sebelumnya selalu mencatatkan passing accuracy > 80%. Dipertandingan kemarin Mbida hanya mencatatkan passing accuracy sebesar 30/40 atau 75%.

Tidak mampu mengalirkan bola dari lini belakang ke tengah, dan gagal mendistribusikan ke area flank yang menjadi andalan. Persib tidak mampu memanfaatkan kelebihan yang biasa diandalkan, yaitu serangan melalui flank kanan. Dengan duet Ridwan dan Supardi, yang harus berduel bersama Matsunaga dan Erol Iba yang mengisi sayap kiri Gresik United. Dalam pertandingan kemarin umpan satu – dua yang sering diperagakan oleh Ridwan dan Supardi, mampu terbaca dengan mudah oleh Erol Iba.

Ketika dalam kondisi demikian, biasanya Hariono maupun Firman Utina akan membantu sayap Persib, dengan membentuk pola segitiga antara Supardi – Hariono/Firman – Ridwan. Namun lagi – lagi peran doble pivot Gresik United, Lan Bastian dan Kacung Munif dalam mematikan pergerakan kedua gelandang tengah Persib melalui potitioning yang baik, mampu membuat Asri dan Mbida tidak mampu mengembangkan permainanya.

Lan Bastian sendiri sebenarnya adalah seorang stopper, nampaknya pelatih Widodo Cahyono Putro sengaja memasang Lan Bastian sebagai gelandang untuk meredam Mbida Messi dan Asri Akbar. Terbukti saat berduel 1 on 1, yang lebih sering dimenangkan oleh Lan Bastian. Posisi doble pivot ini biasanya memang diisi oleh Ahmad Sembiring yang mendampingi Kacung Munif, namun untuk pertandingan melawan Persib pelatih Widodo, mencoba mengubah strategi dengan menggantika Ahmad Sembiring dengan Lan Bastian, dan strategi ini terbukti berhasil.

Eksplorasi Membuka Ruang Gresik United

Selain strategi meredam lini tengah, Gresik juga baik dalam menyerang. Berbeda dengan Persib yang selalu bingung saat memegang bola, karena tidak ada rekan lain yang membantu membuka ruang. Gresik justru mampu melakukan strategi membuka ruang yang lebih baik.

Ketika salah satu pemain Gresik United memegang bola, maka akan ada pemain lain yang membuka ruang dan siap menerima umpan. Beberapa kali pemain Gresik, terutama Kacung Munif dan Samma akan membentuk pola segitiga dengan sayap Gresik baik Siswanto maupun Matsunaga.

Apalagi sisi kanan Persib yang sering lowong ditinggalkan Supardi yang maju membantu serangan, sering dieksploitasi oleh pemain Gresik. Akibatnya Asri Akbar lebih sering membantu sektor kanan pertahanan dan meninggalkan posnya ditengah. Kekacauan inilah yang menyebabkan Persib kesulitan dalam membangun serangan, karena pemain belakang sering bingung bola harus diumpan kemana.

Hal yang sama terjadi ketika bola sudah mendekati area final third, Van Dijk yang rajin menjemput bola juga acapkali bingung harus memberi umpan kemana. Akibatnya pemain ini sering kehilangan bola karena harus berlama – lama menahan bola. Rekan tandem Van Dijk didepan, Hilton Moreira juga mengalami kesulitan yang sama. Ketika memegang bola, Hilton terpaksa harus melakukan dribble memaksa melewati pemain Gresik United karena Van Dijk yang sering dikawal oleh Saza.

Pergantian Pemain Yang Tidak Lagi Efektif

Tertinggal 2-0 pelatih Jajang Nurjaman memasukan Kenji menggantikan Atep dimenit 52. Hal yang dirasa tidak menemukan solusi, karena dengan masuknya Kenji, Jajang menggeser Hilton ke flank kiri dan menduetkan Van Dijk bersama Kenji sebagai striker. Karena problem Persib adalah tidak adanya suplai bola ke depan, dan bukan pada sayap ataupun striker.

Merasa belum juga mencetak gol hingga mendekati 15 menit terakhir pertandingan, Jajang kembail memasukan seorang striker yaitu Airlangga dan justru menarik salah satu gelandang, Asri Akbar. Bermain menggunakan 4 pemain dengan tipikal sebagai penyerang Persib bermain justru tidak efektif, karena problem yang ada dari awal pertandingan belum juga diperbaiki. Yaitu tidak adanya penghubung antar lini per lini.

Walaupun Airlangga akhirnya mampu mencetak gol, namun dengan banyaknya pemain depan yang ada justru menyulitkan pergerakan pemain Persib. Bahkan menjelang akhir pertandingan Hilton dan Van Dijk justru lebih sering berinisiatif turun bergantian menjadi playmaker.

Kesimpulan

Absenya Hariono memang membawa pengaruh besar dalam permainan Persib, karena sepanjang kompetisi Hariono bersama Ridwan memang terus menjadi pilar utama Persib Bandung. Asri Akbar yang menggantikan peran Hariono, juga belum mampu untuk memerankan dengan baik. Persib kalah jauh dalam duel lini tengah dengan Gresik United yang menerapkan strategi khusus dalam menghadapi Persib, mematikan lini tengah yang ditinggalkan Hariono.

Selain itu pola pergantian, yang cenderung tidak efektif oleh coach Janur juga perlu dicermati. Pola yang ada sering mudah ditebak dan tidak mengubah taktik yang dibutuhkan. Yaitu memasukan penyerang jika ingin mengejar ketertinggalan, dan memasukan pemain bertahan jika ingin mempertahankan hasil. Perubahan strategi permainan juga tidak dinamis, dan cenderung statis dan mudah ditebak.

(@mildandaru)

Tags: ,

One Response to Post Match Gresik United 2 vs 1 Persib: “Matinya Lini Tengah Persib”

  1. Berkah Mulia Group on July 2, 2015 at 11:20 am

    go persib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*