Advertise in this space

Post Match Persib 4 vs 3 PBR: Dominasi SvD dan Rapuhnya Center-Back

June 14, 2013

Persib Bandung berhasil meraih 3 point dalam laga derby Bandung yang ke-2 pada lanjutan Liga Super Indonesia. Dalam laga yang dilangsungkan di Stadion Si Jalak Harupat ini Persib Bandung sempat unggul 4-1 sebelum pada menit-menit akhir pertandingan, dua gol dari Marwan Sayedeh mampu memperkecil ketinggalan dan menjadikan skor akhir 4-3 bagi keunggulan Persib.

Shahar Ginanjar, Aang Suparman, Asri Akbar dan Kenji termasuk ke dalam susunan starting line-up guna menggantikan Made Wirawan, Naser Al-Sebai, Mbida Messi dan Hilton Moreira yang harus absen pada laga ini. Sedangkan di kubu Pelita Bandung Raya, Nova Arianto dicadangkan guna memberikan kesempatan kepada Rama Prasetya untuk turun menjadi starter di laga pekan ke-23 Liga Super Indonesia ini.

Titik lemah pada Aang dan Supardi

Dapat dikatakan ruang sebelah kanan pertahanan Persib menjadi titik lemah dalam laga ini. Absennya Naser Al-Sebay menyebabkan Abanda harus bergeser ke sebelah kiri guna menemani Tony dan pos centre-back sebeleh kanan ditempati oleh Aang Suparman. Kelemahan atas tindakan Supardi yang kerap melakukan overlapping dan terlambat untuk turun ketika tim lawan memulai inisiasi serangan masih sering saja terjadi pada laga ini.

Selain itu, kemampuan Aang untuk melakukan intercept pun tidak terlalu banyak dapat diandalkan. Karena selama laga berlangsung sendiri dari 4 kali intersep yang dia lakukan. 3 diantaranya bukan merupakan intersep yang berhasil dikonversi menjadi penguasaan bola bagi Persib Bandung. Apalagi melihat pada Aang yang harus berduel dengan Camara Sekou.

Keunggulan postur tubuh yang lebih besar dan kecepatan yang dimiliki oleh Camara Sekou membuat Aang kerap kewalahan dalam mengantisipasi pemain asal Mali tersebut. Gol yang dicetak oleh Camara Sekou pada menit ke-30 pun tak lepas dari pergerakan Camara Sekou yang gagal dihadang oleh Aang Suparman. Assist yang diberikan oleh Marwan pun berasal dari pos Supardi yang secara bertahan kemampuannya tidak begitu apabila dibandingkan dengan kemampuannya ketika menyerang.

Sebagai catatan, untuk Camara Sekou sendiri, pemain yang pada putaran pertama Liga Super Indonesia membela panji Persiwa Wamena ini telah berhasil membobol gawang Persib dengan total sebanyak 4 gol selama berkarir di Indonesia. 2 gol lainnya dia cetak kala Persiwa bertandang ke stadion Siliwangi pada putaran pertama ISL musim ini dan 1 gol lagi dia cetak kala membela PSAP Sigli pada gelaran ISL musim kemarin.

Sisi kiri penyerangan yang mulai aktif dalam melakukan serangan.

Yang patut menjadi perhatian adalah apabila pada laga-laga sebelumnya bahwa Persib lebih banyak beroperasi disebelah kanan penyerangannya. Pada laga ini, sayap kiri penyerangan Persib dapat dikatakan cukup aktif untuk membangun serangan. Pergerakan Atep yang didukung oleh Tony Sucipto. Atau Sergio van Dijk yang kerap bergerak ke area kiri penyerangan membuat sisi lateral ini cukup aktif dalam menyalurkan bola menuju area kotak penalti.

Dari pergerakan Atep sendiri yang kerap diberikan keleluasaan untuk bergerak ke tengah maupun menyisir sayap membuat pemain asal Cianjur tersebut setidaknya menunjukkan performa yang cukup baik. Setidaknya tercatat bahwa Atep berhasil melakukan 4 kali crossing attemps walaupun hanya 1 yang berhasil menjadi crossing completed.

Bahkan tercatat bahwa sepanjang babak pertama saja, 6 crossing berasal dari sisi kiri penyerangan. Berbeda sekali dengan sisi kanan penyerangan 2 penyerangan yang hanya mencatatkan 2 kali crossing.

Faktor kedisipinan Munadi dan M. Arsyad yang berada pada sisi kiri pertahanan PBR membuat Supardi kerap berhati-hati dalam melakukan over-lapping. Selain itu, baik Camara Sekou dan Marwan Sayedeh yang secara gencar begerak melalui sisi kiri penyerangan membuat sisi kanan Persib tidak terlalu banyak memberikan kontribusinya.

Penampilan Sergio van Dijk yang ciamik

Setelah absen untuk mencetak gol selama 2 laga terakhir. Pada laga kali ini, van Dijk kembali berhasil menunjukkan taji nya. Berduet dengan Kenji Adachihara, Sergio mampu mencetak 2 gol, 2 assist dan 1 key pass. Ruang geraknya yang kerap bergerak di second-line acap kali menarik pergerakan para pemain bertahan untuk maju. Dan celah tersebut berhasil dimanfaatkan oleh pemain Persib yang lainnya.

Sebagai contohnya adalah gol kedua Persib yang berhasil dilesakkan oleh Supardi. Pergerakan Supardi yang tidak terjaga di sisi kanan penyerangan membuat umpan terukur Sergio van Dijk dari second-line dapat diterima dengan baik. Dengan control dan dribble yang tidak terlalu lama Supardi berhasil menceploskan bola ke sudut tiang jauh gawang PBR yang dikawal oleh Tema Mursadat.

Kejelian Sergio van Dijk pada laga ini pun patut diacungi jempol. Bagaimana proses gol keempat Persib yang dicetak oleh van Dijk sendiri. Prosesnya pun dapat dibilang cantik melalui one-two dengan keypass-nya kepada M. Ridwan yang berada di sisi kanan penyerangan Persib dan kemudian mengirimkan umpan crossing yang secara cepat direspon oleh Sergio van Dijk dengan berlari dari tengah dan melalui sekali sentuhan langsung menceploskan bola ke gawang.

Dengan gol ini Sergio van Dijk seolah memberikan pelajaran kepada pemain lainnya agar bergerak secara taktis. Sudah sepantasnya bahwa pemain khususnya seorang penyerang dituntut untuk terus bergerak walaupun sang pemain baru melakukan passing ataupun melakukan pergerakan lainnya. Atas segala pencapaiannya tak salah apabila van Dijk dinobatkan sebagai pemain terbaik pada laga ini.

Kesimpulan

Lagi-lagi bahwa pada laga ini Persib menunjukkan ketergantungannya kepada Sergio van Dijk. Dari 4 gol yang berhasil dicetak oleh Persib selalu melibatkan SvD dalam prosesnya. Sedangkan dari metode penyerangan Persib, terlepas dari faktor rapatnya penjagaan yang dilakukan oleh M. Arsyad dan Munadi disisi kanan penyerangan Persib yang seolah memaksa Djanur untuk menyerang dari sisi kiri penyerangan. Usaha yang dilakukan guna mengembangkan serangan patut diberikan kredit khusus.

Disisi lain, Persib juga seolah diberi hukuman atas tidak solidnya lini pertahanan yang digalang oleh Abanda, dkk. Celah di sisi kanan pertahanan masih sering dimanfaatkan dengan baik oleh lawan. Blunder karena tidak adanya antisipasi yang dilakukan oleh pelatih Djadjang Nurjaman guna mangatasi kelemahan pada sisi tersebut, seolah “mempersilahkan” PBR dalam mengotak-ngatik titik lemah tersebut. Skor 4-3 pun semakin mentahbiskan bahwa memang ini merupakan laga Pseudo-Derby. Sebuah laga derby yang semu atau derby “bohong-bohongan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*