Advertise in this space

Post Match Persib VS PSV Eindhoven (1987): “Bintang Sepakbola Dunia Mencicipi Siliwangi”.”

June 11, 2013

Hari ini tanggal 11 Juni 2013, datanglah ke Stadion Siliwangi malam ini. Bayangkanlah siapa sangka 26 tahun lalu atau 11 Juni 1987. tepat malam hari pukul 19.00 Stadion Siliwangi hiruk pikuk penuh ramai penonton. Ada sekitar 25.000 orang memadatinya. tengoklah ke bangku VVIP disana ada Mantan Gubernur Jabar Yogie S Memet dan para punggawa timnas PSSI yang asyik menyimak pertandingan. Wajar saja pertandingan besar sedang digelar malam itu. Persib Bandung melawan PSV Eindhoven, klub raksasa Belanda yang sedang mengalami masa  jaya-jayanya.

Di Siliwangi kala itu, PSV diperkuat banyak pemain nasional Belanda yakni Rene Van Der Gijp, Ronald Koeman,Jurrie Koolhof, Michel Velke, Gerald Vanenburg. Dari Denmark Frank Anersen dan Ivan Nielsen serta bintang timnas Belgia Erick Gerets. tak lupa sang pemain termahal dunia Ruud Gullit pun ikut serta mempesona beraksi di atas lapangan yang rumputnya bukanlah rumput kelas Eropa.

PSV bukanlah tandingan Persib yang jadi juara Perserikatan tahun 1986. PSV tampil dengan tiga pemain kunci di ketiga lini, Erick Gerets di belakang, Ronald Koeman di tengah, dan Ruud Gullit di depan. Sejak menit 10, PSV sudah mulai mendikte jalannya pertandingan. Sayang sekali Gullit bermain tak maksimal, ia tampil ragu dan kurang memperagakan kelebihannya.

Beberapa kali gerakan dengan Gullit sempat terpotong, bukan karena Persib mampu merebutnya, namun karena ia menghindari slidding Sukowiyono seorang DM yang diplot mencegah Gullit masuk areah third Persib. Akibat ulah Suko, Gullit lebih banyak bersifat sebagai pensuplai bola kedepan. Kehilangan suko di lini tengah membuat Persib menjadi ompong.

Di laga ini Eidhoveen menciptakan pola permainan berubah saat pertandingan berlangsung. Dari pola 4-3-3 menjadi 4-4-2. Pada pola 4-4-2 dua pemain depan didepan adalah pemain sayap. Sangatlah menarik karena Gullit yang bertindak sebagai penyerang tengah, sering bermain ke bawah atau ke belakang meninggakan posisinya. Jika Gullit turun, posisi ujung tombak diisi oleh gelandang penyerang E. Viscool. Viscool ini selain rajin, juga mempunyai kemampuan membuat gol. alhasil 6 gol yang dicetak PSV, 3 diantaranya merupakan hattrick Viscool.

Di babak kedua, Guus Hiddink menarik Gullit digantikan oleh G.Vanenburg. bobotoh menyangkan pergantian ini. Toh kapan lagi mereka bisa menyaksikan pemain dunia di siliwangi. Sampai sekarang pun hal itu belum pernah terulang kembali.

Pergantian Gullit tak mempengaruhi ketajaman serangan PSV, dalam menjaga stabilitas tim. Sang Old Crack Willy Van Der Kerkhof yang memperkuat Belanda dalam piala dunia 1974 dan 1978 dimainkan oleh Hiddink. Kerkhof yang waktu itu berusia 36 tahun, mampu memperlihatkan teknik bola yang prima. Sayang ia bermain terlalu serius dan cenderung kasar. Tak jarang bobotoh pun memaki-maki namanya.

Saat bertahan, barisan pertahanan PSV bermain amat taktis dalam membendung serangan Persib. Pemain belakang PSV memiliki dua keuntungan besar dibandingkan pemain depan Persib. keuntungan pertama dalah tubuh mereka yang tinggi dan besar, Adjat Sudrajat dan Wawan Karnawan bukanlah tandingan mereka.

Keuntungan kedua adalah bek PSV memiliki akselerasi mengejar bola yang jauh lebih baik, penerapan zona marking yang amat efektif dan disiplin membuat serangan Persib selalu didominasi dengan gaya permainan melebar, sayangnya bola selalu kembali ke arah sayap karena pemain sayap mereka selalu gagal melakukan penetrasi ke kotak pinalti. Otak pertahanan PSV dipegang oleh kapten timnas Belgia Eric Gerretz dan pemain bertubuh jangkung Ivan Nielsen.

Barisan pertahanan Persib dimotori oleh Adeng Hudaya sebagai libero. Di laga ini Robby Darwis harus absen, perannya digantikan oleh Ujang Mulyana. Dengan memakai pola 4-3-3 pada posisi fullback ditempati oleh Ade Mulyono dan Dede Iskandar, Di tengah trio Sukowiyono, Iwan sunarya dan Yudi Guntara. Sedangkan di lini depan, Dede Rosadi dan Uut Kuswendi mengapi Adjat Sudradjat.

Absennya Robby membuat lini pertahanan Persib kocar kacir, penampilan Ujang Mulyana tak begitu memuaskan. Pada posisi fullback, Ade Mulyono dan Dede Iskanda terlihat kecapean menghadapi fisik para pemain PSV. Di lini tengah, peranan gullit di babak pertama amat menyulitkan Persib, pertukaran tempat yang dilakukan Gullit dan Koeman ditengah sering membingungkan.

Di sektor tengah Persib, peranan Adjat yang mundur ke belakang dan Iwan Sunarya kalah jauh oleh Gullit cs. Suko yang biasa rajin menjemput atau menyalurkan bola dari tengah ke depan sedikit tersendat-sendat. Malah Yudi Guntara yang sebetulnya diplot agak maju sebagai striker menggantikan Adjat malah bermain agak dalam ke sektor tengah. Dari sektor inilah PSV menguasai jalannya permainan karena kemampuan mereka untuk mencegah dan mencegat setiap bola yang akan disodorkan kedepan.

Barisan depan PSV mengundang decak kagum penonton. Di kanan peran Ruud Gijp yang merupakan kapten timnas Belanda 75 % umpannya selalu menjadi peluang emas bagi PSV diantaranya malah berbuah gol. Di kiri, peran Michael Valke juga tampil amat menawan dan sering melakukan penetrasi cutting inside ke dalam kotak pinalti. Namun yang paling menonjol malam itu adalah Viscool yang memiliki kemampuan ball posession yang sangat baik.

Kekalahan ini terjadi akibat Persib yang tak bermain sesuai dengan karakternya. taktik umpan panjang ke mulut gawang PSV selalu kandas, Persib sama sekali tak terlihat menerapkan short-passing untuk melewati lawan di kotak pinalti. di laga ini PSV melakukan taktik simple football yaitu memanfaatkan kesalahan dari pemain Persib itu sendiri. Begitu Persib membuat kesalahan dengan cepat Eindhoveen menekan dengan baik dalam timing tang tepat.

Di laga ini Persib ditekuk 6-0, gol pertama PSV dicetak oleh  Ruud Gijp di menit 8 lewat shooting kerasnya dari sayap kanan setelah meneriman umpan manis dari Gullit. Selang beberapa menit kemudian Viscool membuat hattrick di menit 15, 40 dan 51. Dua gol lainnya dicetak Koolhof dimenit 58 dan 63. Persib sebenarnya mampu menciptakan peluang, sayang tembakan Dede Rosadi, Adjat Sudradjat, Iwan Sunarya dan Uut Kuswendi masih melenceng diatas gawang.

Sumber : Harian Umum Kompas dan Pikiran Rakyat edisi 10-12 Juni 1987

*Penulis : Aqwam Fiazmi Hanifan, Mahasiswa Tingkat Akhir penggemar Persib dari kecil. Bersama dengan Novan Herfiyana menulis buku “Persib Undercover : Kisah-kisah yang terlupakan” bisa berdiskusi melalui akun twitter @aqfiazfan.

One Response to Post Match Persib VS PSV Eindhoven (1987): “Bintang Sepakbola Dunia Mencicipi Siliwangi”.”

  1. harewosbobotohdotcom on June 13, 2013 at 9:37 am

    hanjakal teu kaalaman..iraha nyak Persib ngalawan deui klub dunia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*