Advertise in this space

30 Juli 1995 – 30 Juli 2013 : Fase Suram yang Ketiga

July 30, 2013

“Takdir memang kejam..Pedih nian kenyataan..Pedih yang ku genggam..Harapan yang jadi aral, “ sebuah lirik mendayu-dayu yang dinyanyikan Dessy Ratnasari di pertengahan dekade 90an yang sempat masuk top chart MTV serta diprotes MUl.

Saya sengaja memulai artikel ini dengan lirik itu.  Sebuah lirik yang pantas ditujukan kepada Persib Bandung, yang tepat pada hari ini; 30 Juli 2013 merayakan hari ulang tahunnya yang 18 tahun tanpa gelar. Ya betul, tepat 18 tahun lalu, Persib menjadi juara Liga Indonesia I yang prestasinya tak pernah diulangi sampai saat ini dan entah sampai kapan.

“Takdir memang kejam,” jika ditelaah lebih mendalam, dalam soal urusan gelar takdir memang selalu kejam dan tak bersahabat. Kendati tim besar dan banyak pendukungnya, Persib selalu tampil angin-anginan dan sial di sepanjang sejarahnya. Sejarah memang hanya mencatat pemenang, Juara dua ataupun semifinalis tidak pernah diingat orang. Kata Susi Susanti juara itu satu.  dan fase Persib untuk menjadi nomer satu amatlah panjang dan butuh pengorbanan.

Edmund Burke seorang politisi Inggris pernah berujar. “Siapa yang tidak pernah belajar dari sejarah maka dia akan ditakdirkan untuk mengulanginya,”. Takdir lagi, takdir lagi apakah memang betul Persib selalu ditakdirkan untuk vakum mendapatkan gelar dalam waktu yang lama seperti yang sekarang terjadi? Jawabnya adalah iya. Takdir yang kejam, atau kita yang tak pernah belajar dari sejarah dan mengulangi kebodohan seperti keledaii? Bisa jadi.

Fase vakum lama gelar dirasakan sejak menjadi juara pertama kompetisi Windonwestrijden 1937 di Solo yang kemudian ditebus 24 tahun sesudahnya. Semarang jadi saksi, saat Persib menjadi kampiun Kejuaraan Nasional di tahun 1961.

Semarang hanyalah tempat singgah, karena usai dari sana Persib kembali mengalami fase vakum kedua, lagi-lagi waktu penantian yang dibutuhkan untuk menjadi juara 24 tahun. Angka 24 adalah angka yang sakral, sakral berkonotasi kesialan. Mungkin, Ketaatan Hariono dalam beribadah dan rasa malu-malunya terhadap wanita membuat ia kebal dari kesialan angka ini.

14 Maret 1986, 110.000 orang di Stadion Utama Senayan jadi saksi Persib kembali mematahkan rekor tak juara yang hampir menyentuh seperempat abad. Beruntungnya, takdir tak terulang, title Persib yang ketiga itu bukanlah lagi awal dari penantian panjang tapi awal dari kejayaan. Dengan Adjat, Robby, Adeng dll sebagai superhero nya. Belasan piala turnamen dan  2 title perserikatan plus 1 kampiun liga berhasil diarak di kota Kembang.

Adagium berbahasa latin Histori et repertum amat cocok menggambarkan korelasi antara angka 24 dan Persib. Hanya saja 24 tahun kevakuman fase pertama dan fase kedua  tentu amat berbeda. Saya akan sedikit bercerita sesuai dengan fakta dan data-data yang saya punya.

Untuk kevakuman pertama bolehlah kita memberikan pengecualiannya, fase 1937-1961 sepakbola kita mengalami pasang surut, efek penjajahan Jepang, invasi Belanda, masa-masa revolusi dan awal republik berdiri membuat sepakbola mati suri. Semuanya baru kembali bebenah setelah PSSI dibentuk lagi dan Soeratin di kudeta tahun 1951 di Semarang. Saat itulah kompetisi antar klub-klub kembali digulirkan.

Di fase awal itu Bandung tak berkutik, kalah gaung dari Persija Jakarta dan PSM Makassar. Timbul pertanyaan menggelitik kenapa Persib selalu gagal menjadi kampiun padahal kala itu Persib mendominasi skuad tim nasional. Ada nama Rukma Sudjana, Wowo Sunaryo, Omo Suratmo, Fatah Hidayat, Sunaryono dll.

Wartawan dan budayawan idola saya Raden Ading Affandi yang waktu itu masih muda sempat menuliskan analisanya kenapa Persib selalu gagal dan gagal, padahal apa yang kurang coba.  Masalahnya hanya satu : match fixing.  Secara blak-blakan RAF mengkritisi sikap para pemain yang mudah tergoda dan digoda oleh para Bandar judi guna mengatur skor. “Nihil kebanggan, murah harga diri” begitu ucap RAF.

Kevakuman jilid dua terjadi dengan masalah yang serupa tak lepas dari sogok menyogok pemain. Hanya saja masalah itu bertambah kompleks dengan konflik antara klub internal, dominasi pemain tua dan mandegnya pembinaan usia muda.

Fase 1961-1986 adalah waktu yang lama, nasib Persib di generasi ini tak lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Selain tak berprestasi Persib pun minim mengirim pemain yang berguna bagi bangsa di tim nasional. Sudah jatuh tertimpa tangga, di fase ini pun Persib mengalami Degradasi sepanjang sejarahnya untuk pertama kali, Ah apes benar.

Tetapi menarik untuk dipaparkan, faktanya sebelum memutuskan rantai libur lama dalam perburuan gelar saat meraih juara di tahun 1961 dan 1986, Persib mengawali dulu prestasinya setahap demi setahap melalui perencanaan yang matang dan tak muluk-muluk.  Tahun 1961 misalnya, di musim sebelum jadi juara, Persib terlebih dahulu mencapai posisi tiga kemudian naik ke peringkat dua baru dimusim ketiganya menjadi juara.

Cerita sama saat meraih title 1986, kembali promosi ke divisi perserikatan, lolos ke final, kembali di final menantang medan. Tahun selanjutnya baru menjadi juara. Istilah tepat untuk menggambarkan dua kejadian ini yang takdirnya sama itu adalah “Nista, Maja, Utama,”.

Saya sempat senang ketika Persib pernah duduk di peringkat tiga diakhir klasemen musim kompetisi 2008 lalu, tapi apadaya harapan tinggalah harapan, menyadur kembali syair Dessy Ratnasari  “Harapan yang jadi aral…” bukannya memperbaiki peringkat di musim selanjutnya posisi Persib malah anjlok ke peringkat lima.

Kini sudah 18 tahun Persib tanpa gelar, usia 18 adalah masa-masa saat manusia bimbang mencari jati diri karena itu merupakan gerbang masuk yang khalayak banyak menyebutnya sebagai “orang dewasa”. Angka 18 ialah angka yang sakral dan bersejarah bagi Persib, jangan lupakan saat merayakan 18 tahun tanpa gelar jilid kedua di tahun 1978, Persib mengalami degradasi dan kehancuran.

Tapi siapa sangka, di usianya yang ke 18 tahun itu Persib mampu bangkit dan menjadi betul-betul sebagai tim yang bersikap dewasa. Perombakan kepengurusan tim dan perhatian terhadap pembinaan pemain muda yang dipimpin Solihin GP membuat Persib mampu menjadi juara enam tahun kemudian, ya tepatnya saat merayakan 24 tahun tanpa gelar mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 di final.

Kini sejarah kembali berulang, kevakuman soal gelar telah memasuk fase jilid ketiga, hanya saja apakah disaat merayakan hari tanpa gelarnya yang ke-18 tahun sekarang Persib akan bersikap sama seperti pendahulunya yang mengawali tahun ke-19 dengan bersikap lebih dewasa? Apakah siklus 24 tahun itu akan kembali terulang? Sejarah manakah yang akan diulang, mampir juara seketika seperti angkatan 1961 atau terus menuai kejayaan selama beberapa tahun seperti angkatan 1986?

Semua itu bergantung pada Persib yang kini memasuki masa-masa ABG, tetapi jika melihat perkembangan zaman modern yang dipenuhi kultur budaya pop yang semuanya serba ingin didapat secara instan, saya hanya berpendapat di usianya yang 18 tahun tanpa gelar ini persib mengalami dewasa yang setengah matang.  Selamat bermimpi!!

 

*Penulis adalah Mahasiswa tingkat akhir yang kuliahnya tak kunjung berakhir. Bobotoh Persib sejak dari Denpasar-Bali dan biasa mengoceh, menggerutu serta memaki di akun twitter @aqfiazfan

One Response to 30 Juli 1995 – 30 Juli 2013 : Fase Suram yang Ketiga

  1. indah on August 29, 2013 at 6:28 am

    PERSIBKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*