Advertise in this space

Budaya Yang Tumbuh Dari Tribun

April 12, 2014

Sepakbola tak hanya hidup 90 menit saja, tetapi dia bisa merasuki kehidupan penggemarnya diluar waktu tersebut. Selalu ada bahasan setelah dan sebelum pertandingan. Dalam seminggu, beberapa media cetak dan elektronik dapat menyajikan artikel-artikel dan berita seputar sepakbola mulai dari pertandingan hingga kejadian diluar pertandingan yang masih bersangkut-paut dengan sepakbola. Obrolan di bar-bar yang menyediakan minuman keras hingga warung kopi pinggir jalan terjadi dari beberapa pengunjung yang menyukai sepakbola. Lebih dari itu, sepakbola menjadi parts of life bagi orang-orang yang sangat mencintainya. Olah raga yang secara modern lahir di Inggris tersebut menjadi populer dan telah membudaya, diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan budaya-budaya atau kultur baru yang berkaitan dengannya pun bermunculan. Mulai dari atas lapangan hingga di tribun penonton.

Kebiasaan pemain saat memasuki lapangan maupun di dalam lapangan pun bertransformasi menjadi budaya tersendiri, seperti misalnya perayaan gol yang dipopulerkan Roger Milla pada awal 90an, mencabut rumput lalu menciumnya saat akan memasuki lapangan, dan kebiasaan lainnya yang tak hanya dilakukan seorang pemain saja namun sudah menular dilakukan banyak pemain. Sementara dari sisi suporter tercipta berbagai kebiasaan bagaimana cara mendukung, bagaimana cara merayakan kemenangan, bagaimana cara berpakaian, yang kesemuanya itu, beberapa telah mendunia, menjadi suatu budaya global.

Casual adalah salah satu subkultur yang hadir dari atas tribun stadion sepakbola. Sebuah budaya berpakaian menggunakan merk-merk ternama dunia yang sering disebut clobber. Kemunculannya di akhir dekade 70an setelah suporter Liverpool kembali dari Italia dan Prancis, dalam rangkaian pertandingan Liga Champion saat itu, mengenakan pakaian dengan merk yang tak dikenal di Inggris seperti Sergio Tachini, Fila Vintage, Kappa dan Adidas. Dengan mengenakan pakaian dengan label-label terkenal tersebut, ternyata berhasil mengelabui para polisi yang hanya mengetahui bahwa pelaku hooliganisme adalah para suporter yang mengenakan sepatu boot Dr. Marten, celana jeans, dan jaket bomber. Terang saja penggunaan paduan label-label terkenal, yang beberapa namanya cukup dikenal di dunia mode semacam Burberry, tersebut menjadi populer. Subkultur casual ini mencapai puncaknya pada akhir 80an dan terus berkembang hingga saat ini, dari vintage casual hingga urban modern casual. Beberapa merk menjadi identik dengan terrace fashion tersebut seperti misalnya Stone Island, CP Company, Paul & Shark, Aquascutum, hingga Prada. Film-film seperti ID, The Firm, Football Factory dan yang Holywood banget yaitu Green Street Hooligan juga ikut mempopulerkan casual.

Dari Inggris tak hanya casual, tetapi tindakan kekerasan sekelompok suporter sepakbola yang dipopulerkan oleh media di sana sebagai hooliganisme juga muncul. Sayangnya di Indonesia ada pergeseran makna dari hooligan ini. Istilah hooligan sebenarnya memiliki konotasi negatif, sebuah istilah yang menggambarkan tindakan agresif, ricuh, rusuhnya para suporter dan paling sering digunakan sebagai penggambaran perilaku kekerasan di dunia persuporteran. Sebuah fenomena yang dianggap penyakit di Inggris sendiri. Phil Thorton, penulis buku Casual, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa tidak semua casual itu hooligan, dengan kata lain perilaku-perilaku buruk hooliganisme tidak selalu ada pada para suporter yang bergaya casual di atas tribun. Selain dari gaya berpakaian dan berperilaku, muncul pula budaya menyanyikan lagu anthem atau lagu penyemangat, yang kerap kali disebut football chant. Maksud dari menyanyikan lagu-lagu tersebut adalah untuk merayakan pertandingan, memberi dukungan, mengintimidasi pihak lawan atau hanya untuk membuat stadion bergemuruh.

Selain berbagai istilah di atas, ada lagi sumbangan istilah dari luar Inggris yang telah membudaya dan meng-global, seperti kelompok ultras. Sebuah kelompok suporter yang identik dengan kefanatikannya dalam mendukung klub sepakbola. Kemunculan kelompok ultras pertama masih diperdebatkan hingga sekarang. Pada tahun 1929 di Honggaria, muncul kelompok suporter bernama Ferencváros ‘s Fradi-szív yang memiliki karakteristik seperti ultras. Tidak hanya di Honggaria, kelompok suporter yang dapat dikomparasi dengan ultras dibentuk juga di Brazil, torcida organizada, pada tahun 1939. Torcida meramaikan tribunnya dengan menabuh drum untuk mengiringi nyanyian mereka selama 90 menit dan juga melemparkan gulungan kertas agar lebih semarak. Aksi hooliganisme juga sering dilakukan, bahkan sampai mengorbankan nyawa dari para rivalnya maupun kelompoknya sendiri. Negara yang paling banyak diasosiasikan dengan ultras adalah Italia. Dalam sejarahnya tercatat bahwa kelompok pertama ultras dibentuk tahun 1951 di Italia. Sedangkan penggunaan nama ultras sendiri muncul dari suporter Samdoria pada tahun 1960an dengan nama Ultras Tito Cucchiaroni. Ultras memberikan sebuah gaya dukungan yang menarik dan penuh hingar bingar dengan tambahan pyro dan smoke bomb. Kreatifitasnya tak hanya sampai di situ saja, muncul kembali sebuah aksi membuat koreografi di atas tribun. Aksi koreografi yang berasal dari ultras benua Eropa tersebut menjadi budaya yang lahir di atas tribun selanjutnya yang akhirnya menjalar ke tribun-tribun stadion beberapa belahan dunia termasuk di Indonesia.

Dari kota kita sendiri ada istilah Bobotoh, sebuah kata dari bahasa Sunda yang berarti pendukung atau suporter. Sebuah identitas pokok yang melekat pada pendukung Persib seperti halnya kata “tifosi” dari Italia, keduanya memiliki makna yang sama namun beda nama.

Jaman sekarang, segala budaya tersebut bukan hanya milik negara asalnya saja, tapi telah merambah jauh hingga tribun-tribun stadion di segala penjuru dunia umumnya dan Indonesia pada khususnya. Sehingga bila dikatakan semua hal tersebut adalah budaya luar dan dianggap tabu untuk diimplementasikan beberapa diantaranya, maka boleh dibilang ketinggalan jaman. Tak semua hal yang ada di tribun stadion rumah kita sendiri adalah lahir 100% tanpa pengaruh budaya global, di sana ada akulturasi budaya yang membentuk gaya dukungan, menumbuhkan berbagai perilaku di atas tribun dan membangkitkan gairah dalam menikmati klub sepakbola dalam bertanding.

 

Ditulis oleh @insureksionist

Tags: , , , , , , , , ,

6 Responses to Budaya Yang Tumbuh Dari Tribun

  1. pappertrab on April 15, 2014 at 1:55 pm

    Casuals yg lagi happening banget ini ya? mmm…saya sich sebagai bobotoh menyikapinya biasa saja toh nilai2 budaya luar atau kulture seperti ini bukannya hal biasa terjadi dimasyarakat, penyerepan2 nilainya dikalangan masyarakat khususnya anak2 muda jaman skrg, apalagi dibandung yg notaben nya kota paris van java pengaplikasian subkulture baik itu music, fashion atau hal yg lainnya sangat hal yg sangat biasa dan terlihat dgn jelas bahwa itu terjadi penyerapan nilai itu dimasyarakat, dibelahan bumi mana pun pengaruh budaya atau akultrasi sangat terasa pengaruh nya terhadap perilaku…pengaplikasian terhadap nila2 kulture ini dimasyarakat modern wajar kalo saya bilang terjadi dimana pun, itu namanya melek dan gak fasip terhadap budaya luar itu termasuk pengaplikasian ke daya dukungan supporter gak ada cara pandang salah terhadap ekspresi individu dan golongan tujuan toh sama yaitu mendukung tim utk meraih kemenangan…tapi kulture ini bersebrangan dan sesuai kulture sunda? balik lagi ke individu2 msg2 saya lahir dijakarta dan besar dijakarta tapi saya juga punya bahasa ibu dan tanah nenek moyang yg sudah menjadi DNA didalam diri saya…mana mungkin saya gak punya batasan wajar terhadap semua nilai2 tertentu…menjadi trand gaya mendukung selalu akan terjadi perbedaan toh tujuan sama mendukung tim kebanggan, saking besarnya sebuah makna ‘kabeh dulur’ harusnya menjadi pondasi kokoh untuk sebuah kebersamaan bobotoh dan hrs nya itu terpatri dalam hati msg2…bukan malah dijadikan rival karena berbeda cara mendukung…tetap semangat temen2 dibandung, ini hanya masalah waktu seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang hehe…satu hati untuk sebuah nama kebanggaan bersama ‘PERSIB’

  2. Boy Jati Rahmadany on April 21, 2014 at 12:05 pm

    Jati diri Urang Sunda lebih tua umurnya dari budaya-budaya yang bung @insureksionist diatas. masa bodoh dengan aliran-aliran yang sekarang lagi trend di Bandung, viking lebih senior dari budaya itu semua. 2 dekade kami menguasai tribun, dan budaya kami lebih mengakar dan sinergis dengan budaya Sunda sebagai jati diri Maung Bandung. jujur kami muak dan risih dengan gaya-gaya budaya casual dan ultras yang kini mewabah di tribun. cara represif dan kekerasan terpaksa dilakukan untuk menekan budaya luar tersebut agar budaya Sunda sebagai jati diri persib tidak terkikis dan hilang.

    • admin on May 5, 2014 at 12:54 pm

      seperti yg kebakaran jenggot gini.. xixixixi

  3. Info Digital on September 8, 2014 at 8:44 am

    sebenernya ada bagus dan gak bagusnya
    ya kita sih tinggal menyaring aja yang bagus dan gk bagusnya

  4. Deny on October 8, 2014 at 6:55 am

    Boy Jati>>> Pahami dulu budaya sunda (jati diri urang sunda) tuh seperti apa. Justru dengan tindakan yg tidak saling menghargai (plural) dan represif terhadap perbedaan, itu bahkan satu penghinaan sebagai orang sunda. Sebab, aku pikir budaya sunda tidak mengenal hal demikian. Aku bukan orang sunda, tapi sepertinya disetiap suku manapun termasuk sunda pasti tidak mengajaarkan hal demikian, bung! Kian hari Bandung makin tidak kondusif, kian hari Bandung makin arogan, kian hari aku tidak lagi interes terhadap (oknum) viking/bobotoh. Dan ingat Jawa Barat tak sunda, kita mesti tahu Jawa Barat memiliki 3 budaya; Melayu Betawi, Jawa Cirebon dan indramayu. Cirebon lebih keras, Kirik!!

  5. dera rochmadi on December 18, 2014 at 8:44 pm

    Maaf. Emang viking berasal dari budaya mana ? Cara berekspresi setiap orang itu berbeda-beda kang. Kita harus apresiasi sampai hal yg paling kecil. Tidak ada kata senioritas, ini cuma masalah idealisme dalam cara mendukung. Toh kita tetap berdiri dibawah bendera yg sama. Kenapa harus muak dengan keberadaan fansclub lainnya ? . Inget kalian juga pernah punya chant “We Love You PERSIB La La La La La La We Love You PERSIB”. Itu berasal dari budaya mana ? Bersinergi atau tidak itu relatif kang. Kami ada juga untuk PERSIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*