Advertise in this space

Mengurai Kejanggalan Permainan Persib Pada Final Piala Bhayangkara

April 7, 2016

Sepakbola memang bukan lagi sekadar sepakbola. Setiap kemenangan, kekalahan, ataupun laga imbang sekalipun bisa dijelaskan secara rinci sebab-musababnya. Keberuntungan pun relevan, kalau kata Johan Cruyff. Adalah bodoh jika kita mengesampingkan fakta di lapangan dan statistik yang dibaca beserta konteks. Seperti salah satu media statistik sepakbola Indonesia, yang dengan konyol, mendaulat Kim Jeffrey sebagai pemain terbaik di laga melawan Bali United berdasarkan angka saja.

Ketika membaca judul ini, apa yang ada di benak Bobotoh? Apakah saya akan menyalahkan skill pemain, ataupun kebijakan strategi dari pelatih? Bukan. Bahkan yang saya akan bahas kali ini adalah bagian dari non-teknis permainan. Bukan skill pemain ataupun kualitas taktik yang dipakai oleh pelatih. Pelatih adalah peracik skema permainan dan pengatur strategi di lapangan. Seorang pemikir sekaligus pelukis yang kuasnya adalah tinta hitam, dan kanvasnya adalah papan strategi.

Sedangkan pemain, adalah pengimplementasi dari apa yang sudah direncanakan oleh tim sebagai sebuah unit. Adalah serdadu-serdadu yang mengemban harapan dari seluruh elemen tim, termasuk suporter. Alih-alih menyalahkan, memang sepatutnya evaluasi yang harus kita jadikan parameter pembenahan diri. Hal ini wajar, jika para pemain sudah menjalankan instruksi pelatih dengan benar. Bagaimana jika tidak?

Curhat Dejan dan Gerak Bibir Samsul Arif

Pertandingan final Bhayangkara Cup 2016 memang telah usai. Arema Cronous sukses mengalahkan Persib dengan skor mencolok, 2-0. Kepempinan wasit yang buruk, dan memang buruknya permainan Persib ditengarai menjadi penyebab utama kekalahan tim berjuluk Maung Bandung tersebut.

Salah satu media daring, terkemuka di Indonesia, mewartakan petikan wawancara yang cukup serius dengan Dejan Antonic. Kurang lebih, Dejan mengaku heran terhadap permainan anak asuhnya. Ia mengaku kebingungan dengan apa yang terjadi di lapangan. Mantan pelatih kepala Timnas Hongkong itu mengatakan bahwa pressing, umpan pendek, dan daya juang pemain ketika merebut bola setelah sempat direbut terlebih dahulu oleh lawan, adalah apa yang ia yakini sebagai patron permainan Persib. Kalau mau dirunut, itulah permainan Gegenpressing milik Juergen Klopp, eks pelatih FSV Mainz, yang kini menukangi Liverpool. Pelatih asal Serbia tersebut keheranan, mengapa para pemain memainkan bola-bola panjang?

Seorang rekan saya, katakanlah Rizki (nama asli), mengatakan dengan jenaka bahwa “pepelentungan teu puguh teu nanaon, asal pas di suku balad sorangan,” (main bola panjang itu tidak masalah, jika bola yang diarahkan tersebut mendarat di kaki rekan setim). Bukan di kaki lawan. Apalagi di kaki mantan.

Kita memang tidak harus melulu saklek dengan pola permainan penguasaan bola dari kaki ke kaki. Arsene Wenger (Arsenal), Louis Van Gaal (Manchester United), atau jika dalam skala yang lebih kecil, Paco Jemez (Rayo Vallecano) dan Michael Petrovic (Urawa Red Diamonds), kerap menerima kritikan pedas dari fans ataupun rekan jurnalis.

Permainan secantik Isyana Sarasvati, ataupun umpan kaki ke kaki yang sedap dipandang, tidak akan berguna jika tim kita kalah. Lagipula, untuk apa jika pola main seperti itu, malah memicu lahirnya sebuah inkonsistensi? Turbulensi performa adalah hal yang tidak bisa dimaafkan di era sepakbola industri dewasa ini.

Tapi jika pelatih menginginkan hal itu, sebagai pemegang tampuk kekuasaan tertinggi pada tim yang diasuhnya, pemain harus menurutinya. Tidak peduli seberapa terkenalnya mereka. Tidak peduli jika para pemain merasa tidak yakin dengan permainan umpan pendek dari kaki ke kaki. Lakukan saja.

Sedangkan pola permainan long-ball sendiri, sebenarnya, bukanlah hal yang tabu dalam sepakbola. Selama terencana dan tidak sia-sia. Bobotoh Persib harus bisa bedakan, mana skema long-ball yang terpola, dan mana yang lahir dari sebuah bentuk kefrustrasian.

Jika sudah frustrasi, artinya pemain hanya mencari jalan keluar instan. Hasilnya, ya, bubuk. Apakah berguna? Tidak. Sia-sia saja yang ada. Samsul Arif, saat persiapan menjelang babak kedua (Bobotoh bisa lihat di Youtube, ketik saja NetInsight dan cari rekaman pertandingan Persib melawan Arema), mengatakan kepada rekannya yang lain dengan mimik wajah gusar, “Susah.. Susah…”, katanya.

Kira-kira apa yang bisa kita ambil sebagai titik pijak atau perspektif pemikiran kita sebagai supporter? Setelah melihat rekaman video tersebut, jangan-jangan, para pemain yang memang sudah kewalahan sejak babak pertama, enggan mendengar dan memainkan pola permainan yang diinginkan pelatih. Mungkin saja Dejan menginginkan anak asuhnya main sabar dan tidak terpancing saat jeda babak pertama. Mungkin saja ia menginginkan pola permainan agresif dan umpan dari kaki ke kaki. Mungkin saja Dejan ingin ‘A’ saat briefing, tapi malah jadi ‘B’ karena pemain tidak percaya diri.

Apakah penyebabnya adalah krisis kepercayaan diri dari para pemain? Sehingga para pemain enggan, untuk mengejawantahkannya kedalam permainan di lapangan?

Saya memang cukup menyukai berbagai macam kisah-kisah konspiratif, tapi membicarakan hal ini, adalah tidak ada gunanya. Arema sudah juara, dan mereka sahih menjadi polisi di ajang Piala Bhayangkara 2016. Kita tetap presidennya, kok. Betul?

Kendati tidak ada gunanya, hal ini cukup mengundang rasa khawatir untuk saya pribadi. Tak lama lagi, kita, akan tampil di ajang Indonesia Super Competition (ISC) 2016. Bagaimana jika krisis kepercayaan diri pemain terus berlanjut, sampai kompetisi nanti dimulai?

Tak berhenti di curhatan awalnya saja, Dejan juga dengan jelas mengatakan bahwa anggota tim Persib sebelumnya, ketika diisi oleh Supardi, Ridwan, Firman, dan Konate (Dejan menyebut nama) adalah sekumpulan superstar. Seorang jawara di lapangan. Mereka percaya diri, kata Dejan.

Apa artinya?

Ketidakpercayaan diri adalah suatu hal yang tak akan termaafkan jika anda adalah pemain sepakbola di klub besar. Disini, artinya harus ada perbaikan mental dari para pemain. Tak perlu menyewa jasa psikiater atau semacamnya. Fisioterapis, sejujurnya, lebih dibutuhkan Persib untuk saat ini. Cukup vitamin berupa kalimat-kalimat pembangun motivasi dari coach Dejan.

Bapak satu anak tersebut harus sadar, sebagus apapun rencana yang ada di kepala, tak akan ada artinya jika tidak bisa dimengerti dan dipakai oleh anak asuhnya. Ingat, kalimat motivasi untuk menunjang kenaikan performa pemain di lapangan, bukan kalimat-kalimat provokatif yang malah mengundang amarah.

Pemain sendiri harus sadar, ini klub besar. Rudolf Yanto Basna saja, yang sempat diwawancarai oleh PanditFootball, tahu bahwa dulu para pemain tidak mau keluar rumah jika Persib kalah.Tanggung jawab itu penting. Ketika anda dibayar, jadi pujaan, mampu hidup bak pesohor atau artis terkenal, bahkan dielu-elukan, ada harga yang harus dibayar. Jadi pemain Persib itu tidak mudah.

Jangan katakan sulit, tidak bisa, atau tidak mampu. Bobotoh sudah datang jauh-jauh ke Jakarta, mengorbankan apapun, termasuk mempertaruhkan nyawa yang hanya selembar itu.

Untuk coach Dejan, teruslah beri motivasi dan arahan yang berguna. Kami akan terus memantau proses yang sedang berjalan. Roma tidak dibangun dalam semalam, dan bahkan pedekate ke cememew pun sudah pasti, ada waktu yang harus dikorbankan.

Sedangkan untuk pemain, jangan putuskan sendiri apa yang akan kalian lakukan di dalam lapangan. Pelatih lebih tahu, bahkan, lebih mampu dalam urusan strategi. Persib tidak boleh memberi tempat untuk pemain-pemain insecure dan takut melangkah. Takut melakukan sesuatu. Apa-apaan itu?

Memiliki Jose Mourinho atau Sir Alex Ferguson di kursi pelatih kepala pun akan terasa percuma, jika pemainnya takut mengaplikasikan strategi permainan, yang tentunya sudah disusun dan dipertimbangkan matang-matang oleh pelatih. Jangan main-main. Berjalanlah beriringan, sesuai tugas masing-masing. Apresiasi dan jalankanlah kebijakan pelatih kepala.

Semoga cepat berbenah, Persib Duriat Aing!

Penulis adalah Bobotoh yang menganggap Manchester United sebagai hiburan. Kadang ngetweet di akun @hafizadingrh.

Tags: , , , , , ,

2 Responses to Mengurai Kejanggalan Permainan Persib Pada Final Piala Bhayangkara

  1. Rizki Setiawan on April 7, 2016 at 9:30 pm

    Ya memang betul, yang dibutuhkan Persib saat ini adalah pengaturan pola permainan yang baik, ditambah pemain yang memiliki umpan yang berkualitas. kita bisa melihat performa Belencoso yang mungkin kurang memuaskan dimata bobotoh, apakah itu menjadi kesalahan paten Belencoso? Menurut saya tidak, apalah arti sebuah meriam tanpa sulutan api untuk meledakannya. Begitu pula Belencoso membutuhkan umpan-umpan berkelas, long pass yang mengarah dan waktu mengumpan yang pas. Sejauh ini hal tersebut belum terlihat dari kaki para pemain Persib, hanya sebuah umpan jauh yang terlihat seperti sapuan bola yang tidak jelas sehingga hanya membuang momentum secara cuma cuma mengingat sayap para pemain Persib memiliki postur dibawah pemain bertahan lawan. Tetapi Persib memiliki sayap yang kuat dan cepat, seharusnya Persib memainkan umpan-umpan datar yang memungkinkan untuk dijangkau oleh para pemain depan Persib, sah-sah saja Persib memainkan long ball dengan catatan memiliki kualitas umpan yang berkelas bukan umpan hasil permainan emosional. s
    Seperti yang saya sebutkan “tidak masalah bermain long ball, asalkan bola yang mendekati kaki pemain, bukan pemain yang mengejar bola, terlebih lagi jika umpan terbuang sia sia di kaki pemain lawan”. :)

  2. Novaldio Rizki on April 8, 2016 at 9:32 am

    Tidak percaya diri jika dibiarkan bakal jadi penyakit. Terlebih lagi, di skuad Persib saat ini, tidak ada ‘sosok-yang-dituakan’ seperti Firman Utina musim lalu. Atep sebagai kapten seakan tidak menjalankan fungsinya. Kemudian, pelatih semestinya berperan pula sebagai motivator, bukan ikut marah-marah tidak jelas, seperti cewek PMS. Jika pemain tidak pede dan pelatih emosi, ditambah ketinggalan skor, kahareupna moal baleg, moral tim bakal lebih buruk.

    Strategi tanpa moral, tiada hasil. Moral tanpa strategi, tidak jelas.

    Walaupun begitu, tim ini masih baru, dan dalam tahap pembentukan. Bila bayang-bayang mantan masih menghampiri, itu wajar. Semoga di ISC bisa mangprang dengan datangnya amunisi yang baru. Tentu perlu adanya perbaikan moral tim secara keseluruhan, dari pemain maupun pelatih.

    Anyway, tulisan iki joss, cak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*