Advertise in this space

​Persib Bukanlah Ormas Apalagi Geng Motor

June 7, 2017

Pernyataan manajer Umuh Muchtar tentang “bobotoh banci” dan “bobotoh sejati” ini pantas untuk ditanggapi. 

Pertama, langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar, Umuh Muchtar telah melakukan pembelahan bobotoh. Penggunaan istilah “bobotoh banci” dan “bobotoh sejati”, apalagi tanpa penjelasan yang jernih apa maksudnya, sehingga hanya ia yang tahu siapa yang “banci” dan siapa yang “sejati”, itu sama saja mengatakan bahwa dia yang bisa/berhak menilai mana yang “banci” dan mana yang “sejati“.

Kedua, yang juga tidak tepat adalah mengatakan bahwa bobotoh yang mengkritik Umuh, Djanur atau manajemen Persib sebagai “tidak sejati”, sedangkan bobotoh yang mendukung adalah “bobotoh sejati”. Pernyataan ini sulit diterima karena menjadi bobotoh itu tidak membutuhkan KTP, juga tidak perlu verifikasi, dan yang sudah jelas juga tidak diukur oleh mendukung/menolak seseorang di dalam tubuh Persib.

Kalau seseorang disebut Ahokers/Jokowers sejati bisa diukur dari dia mendukung sosok atau tidak. Tapi menjadi suporter, sejauh pengetahuan kami, tidak ada urusannya dengan orang per orang. Menjadi suporter adalah mendukung klub. Seseorang bisa saja membenci Berlusconi tapi pada saat yang sama adalah seorang Milanisti. Dan begitu seterusnya.

Bobotoh itu mendukung Persib, bukan Umuh Muchtar, Djadjang Nurdjaman, Glenn Sugita, atau Atep atau Vlado atau Zola atau Essien. Bobotoh itu adalah sebutan yang merujuk mereka yang mendukung Persib. Secara definisi juga begitu. Dari zaman baheula juga begitu.  Sangat tidak masuk akal menyebut bobotoh itu sejati atau tidak sejati hanya karena mendukung atau tidak mendukung seseorang atau sekelompk orang di tubuh Persib.

Menjadi suporter, meyakini sebuah klub sebagai kesebelasan kesayangan yang dicintai, adalah perkara hati. Sampai batas tertentu ini nyaris menyerupai “iman”. Menyerupai dalam arti: letaknya di dalam hati. Tidak ada yang dapat mengukur isi hati seseorang. Manajer, dikektur, komisaris atau pelatih adalah posisi penting, tapi mustahil mereka tahu isi hati orang lain — “iman” orang lain. 

Jika kata “banci” yang ia maksudkan adalah bobotoh yang hanya bisa mengkritik tapi tidak berani unjuk muka, ini juga ngaco. Selain merendahkan, dan sama sekali tidak menjawab substansi kritik, ucapan “banci” itu juga hanya memperlihatkan ketidaktahuan terhadap kompleksitas gender. Sama buruknya dengan mengirimkan kutang/bra seseorang yang dianggap penakut. Ucapan seksis yang tidak pada tempatnya. 

Lagi pula, mengatakan seorang pengkritik itu banci hanya karena berani melakukan kritik melalui tulisan, baik itu media sosial atau artikel, maka definisi itu pun masih bermasalah. Kesahihan sebuah kritik tidak diukur dari keberanian unjuk muka. Kesahihan sebuah kritik terletak pada akurasinya dalam menyampaikan persoalan dan ketajamannya dalam melakukan analisis. Kritik yang bagus tidak berkurang artinya hanya karena disampaikan secara anonim.

Jika ada bobotoh yang memutuskan berhati-hati muncul setelah mengkritik, maka itu adalah sikap yang wajar. Ada alasan yang kuat. Dikutip dari wawancara dengan PRFM:

“Orang-orang saya juga sudah turun, para bobotoh pendukung Persib sejati yang meminta saya dengan Djadjang tidak mundur juga sudah bergerak. Mereka harus ketangkap dulu”

Apa yang dimaksud dengan “orang-orang saya”? Pasukan? Pengawal? Bodyguard? Ormas? Atau apa? Memangnya kalau udah ditangkap mau diapakan? Apa haknya menangkap? Siapa yang menangkap?

Sebaiknya berhenti menggunakan kata “banci” jika menghadapi kritik saja harus menurunkan “orang-orang saya”. Seseorang yang hanya bisa mengerahkan pasukan saat menghadapi kritik, sesungguhnya dia tidak punya hak sedikit pun untuk menyebut orang lain “banci”. 

Jika berbicara dengan mantan-mantan pemain, akan muncul cerita betapa pedasnya omongan para bobotoh saat Persib kalah. Ini dialami dari era Max Timisela sampai Hariono. Sudah banyak yang tahu hal ini karena sudah jadi cerita dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Namun, tolong saya dikoreksi jika keliru, tidak pernah mendengar ada ceritanya bobotoh ditangkap oleh “orang-orang saya”, oleh manajemen atau oleh petinggi Persib. 

Ucapan-ucapan yang mengarah pada tindakan persekusi ini, apalagi jika sampai benar-benar kejadian, menjadi preseden buruk bagi sejarah Persib sebagai identitas bersama warga Bandung dan Jawa Barat. Ucapan yang mengancam “mereka harus ditangkap” adalah ucapan yang berbahaya. 

Manajemen PT PBB sendiri harus segera mengambil sikap yang clear, jelas, dan tegas menyikapi situasi yang berkembang, termasuk situasi yang menyangkut Djanur. Pernyataan bahwa “kami belum menerima surat pengunduran diri secara resmi sehingga secara status Djanur masih pelatih Persib” tidak menjernihkan suasana karena faktanya Djanur sudah menyatakan pengunduran diri secara lisan.  Untuk segala jerih payah dan kontribusi yang telah diberikan Djanur, baik sebagai pemain dan pelatih, saya kira tindakan yang penuh respek jika permintaan Djanur itu segera direspons dengan clear. 

Tidak cukup petinggi hanya membuat surat terbuka yang sebenarnya tidak menginformasikan apa pun, sama sekali tidak informatif, dan bisa dikatakan sangat normatif.  

Manajemen juga harus berani melakukan evaluasi diri terhadap kritik yang berkembang, misalnya, terkait dominasi pertimbangan bisnis saat mendatangkan pemain-pemain asing yang terbukti tidak berkontribusi di lapangan namun hanya berkontribusi dalam pencitraan media.  Ini kritik yang tajam, akurat, dan substansial, karena faktanya dari 4 pemain asing hanya Vlado yang tampil reguler sebagai pemain utama. Sisanya, jika tidak masuk di babak kedua, malahan tidak masuk Daftar Susunan Pemain (DSP).

Apa pun keputusan yang diambil terkait Djanur, bertahan atau diganti, manajemen harus serius menanggapi kritik lain bobotoh: hentikan intervensi terhadap pelatih. Itu salah satu pernyataan sikap resmi Viking Persib Club yang mewakili aspirasi banyak sekali bobotoh. Jika memang ada yang melakukan intervensi, bisakah atau beranikah manajemen menindak tegas? Bisakah manajemen tidak buang badan?

Hentikan tindakan menggelikan memasukkan petinggi Persib dalam DSP dengan status yang aneh-aneh macam “kit man”. Ini bukan soal dibolehkan atau tidak dalam regulasi, tapi itu sudah praktik kebohongan yang terbuka.  Statusnya di PT PBB apa kok masuk DSP sebagai yang lain dan aneh-aneh. Menggelikan sekali ini dilakukan secara terbuka. Lebih menyedihkan lagi jika ini dibiarkan dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Diskusi dan debat yang terjadi belakangan ini sejatinya pernah terjadi pada 2012-2013. Dan kini terulang dengan pola yang berdekatan. Ini pertanda tidak ada perubahan yang mendasar dalam isu-isu yang menjadi perhatian bobotoh sekarang. 

Persib adalah milik bersama. Persib boleh saja dikelola oleh sebuah PT. Tapi yang sudah pasti: Persib itu bukan ormas! Ancam-mengancam, mengerahkan “orang-orang saya”, apalagi tangkap-tangkap segala rupa, hanya membuat kewibawaan dan marwah Persib akan terjerembab menjadi seperti ormas dan geng motor.

Tags: , , , , , ,

One Response to ​Persib Bukanlah Ormas Apalagi Geng Motor

  1. Milan Kundera on June 8, 2017 at 12:18 pm

    Bagaimana manajemen menghadapi kritik menjadi persoalan, dengan dalih “untuk melindungi PERSIB” seseorang merasa paling benar, asa aing. Lobaa omong tewak! Menyebut bobotoh kelewat batas menurut saya pun tidak benar, justru karena kami tidak ingin melihat Persib jauh lebih terpuruk maka bertindak sekarang. Memangnya fans klub mana sih yang tidak gatal melihat form klub nya buruk.

    Saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa mendukung dalam sepak bola tidak melulu urusannya dengan individu, toh kami menyebut Persib bermain butut, sekali lagi “Persib bermain butut”. Menyebut Persib saja ada unsur kolektif disana.

    praktik otoriter ini tidak boleh berkembang, atas dasar apa sebuah penangkapan? atas dasar apa kami dilarang mengkritik, bukan kah berpendapat itu sudah dijamin dalam UU? Hey ini bukan orde baru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*